• logo nu online
Home Nasional Banten Raya Warta Keislaman Tokoh Khutbah Sejarah Opini Pesantren NU Preneur Ramadhan 2023
Senin, 17 Juni 2024

Tokoh

Syarah Arba'in Hadratussyekh Hasyim Asy'ari; Bacaan Penting untuk Warga NU

Syarah Arba'in Hadratussyekh Hasyim Asy'ari; Bacaan Penting untuk Warga NU
Syarah Lathif karya Ustadz Khoiruddin ini menjabarkan satu per satu 40 hadits dalam Kitab Arbain Hadratussyekh KH M Hasyim Asy'ari. (Foto: M Hanifuddin for NUOB)
Syarah Lathif karya Ustadz Khoiruddin ini menjabarkan satu per satu 40 hadits dalam Kitab Arbain Hadratussyekh KH M Hasyim Asy'ari. (Foto: M Hanifuddin for NUOB)

SEKITAR 100 tahun lalu, bersama sejumlah kiai, Hadratussyekh KH M Hasyim Asy'ari (1871-1947) mendirikan Nahdlatul Ulama (NU). Organisasi kebangkitan ulama. Bangkit untuk membangun peradaban. Prinsip NU digali dari spirit wahyu; Al-Qur'an dan hadits. Salah satunya tertuang dalam Kitab Arbain. Kitab anggitan Hadratussyekh Hasyim Asy'ari. Memuat 40 hadits.



Pemilihan 40 hadits ini tentu ada pertimbangan. Tidak serta merta hanya sebagai risalah atau diktat. Lebih dari itu, harus menjadi rujukan perjuangan. Demikian disampaikan Wakil Rais 'Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Afifuddin Muhajir Situbondo, Jawa Timur. Dengan kata lain, Kitab Arbain di atas harus menjadi panduan khidmah pengurus dan warga NU. Yakni mewujudkan peradaban Indonesia merdeka dan tata kelola dunia.

 


Dari kebutuhan itulah, Syarah Lathif ini penting dibaca. Karya Ustadz Khoiruddin ini menjabarkan satu per satu 40 hadits dalam Kitab Arbain. Terbit Februari 2024. Tebal 130 halaman. Diberi kata pengantar 2 halaman oleh KH Afifuddin Muhajir. Di setiap lembar,  disajikan paparan yang bernas, dengan diksi bahasa Arab yang mudah. Kehadiran kitab syarah karya Khatib Ma'had Aly Situbondo ini adalah bagian dari kebangkitan mengarang kitab di dunia pesantren.

 

Setidaknya ada 3 hal menarik. Pertama, dari sisi sistematika penulisan, kitab ini terbagi menjadi 2 bagian. Di bagian awal disajikan matan 40 hadits pilihan Hadratussyekh Hasyim Asy'ari. Komplet dengan rujukan kitab haditsnya. Baik dari Kutubussittah atau pun lainnya. Semisal Musnad al-Bazzar, Musnad Ibnu Abi Dunya, dan lain sebagainya. Setelah itu, di bagian berikutnya disajikan syarah masing-masing hadits.



Kedua, di bagian syarah, penulis menjelaskan kata-kata kunci. Dilanjutkan dengan pendapat ulama. Baik klasik maupun kontemporer. Selain itu, juga disajikan perbandingan riwayat. Di bagian akhir, dipaparkan kontekstualisasi pengamalan hadits. Di titik inilah, kita merasakan bagaimana relevansi 40 hadits yang menjadi prinsip perjuangan NU. Khususnya saat memasuki abad kedua.

 


Ketiga, contoh-contoh yang diangkat adalah fenomena kekinian. Salah satunya adalah digitalisasi. Saat menjelaskan hadits yang kedua, yakni tentang kecakapan dai, maka penting kiranya menggunakan akun-akun media sosial. Dai perlu memiliki tingkat literasi digital yang memadai. Semisal menggunakan Instagram, Facebook, Youtube, Twitter, dan lain sebagainya.

Lantas tertarikkah Anda?

 


Ustadz Muhammad Hanifuddin, Ketua LBM PCNU Tangsel dan Dosen Ma'had Darus-Sunnah Jakarta


Tokoh Terbaru