• logo nu online
Home Nasional Banten Raya Warta Keislaman Tokoh Khutbah Sejarah Opini Pesantren NU Preneur Ramadhan 2023
Senin, 17 Juni 2024

Tokoh

*KH Abdul Kabier, Perintis Pondok Pesantren Nur El Falah Kubang, Petir, Kabupaten Serang (2)

Banyak Lubang Bekas Tembakan di Sarung, Dirikan Perguruan Tinggi Islam di Kubang

Banyak Lubang Bekas Tembakan di Sarung, Dirikan Perguruan Tinggi Islam di Kubang
Cucu KH Abdul Kabier, Gus Ahmad Yury Alam Fathullah (kiri) dan Gus Royhan Imamul Muttaqin, penerus kepemimpinan di Pondok Pesantren Nur El Falah Kubang, Petir, Kabupaten Serang. (Foto: NUOB/M Izzul M)
Cucu KH Abdul Kabier, Gus Ahmad Yury Alam Fathullah (kiri) dan Gus Royhan Imamul Muttaqin, penerus kepemimpinan di Pondok Pesantren Nur El Falah Kubang, Petir, Kabupaten Serang. (Foto: NUOB/M Izzul M)

SEPULANG menimba ilmu dari puluhan pesantren, termasuk Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, KH Abdul Kabier mengajarkan ilmu yang didapatnya. Ada beberapa hadangan, karena sejumlah warga di kampungnya menentangnya. Tapi, Kiai Kabier tak surut. Dia merintis pesantren yang saat ini dikenal sebagai Nur El Falah Kubang, Petir, Kabupaten Serang, tersebut.

 


Pada 1940, Kiai Kabier dengan Syukraeni, putri Kepala Desa Kadugenap, H Sadari. Dari pernikahan tersebut dikaruniai 12 anak. Termasuk KH Ito Athoillah dan KH Idy Faridy Hakim, yang nantinya meneruskan memegang estafet mengasuh pesantren sebelum dipegang oleh generasi ketiga saat ini, KH Ahmad Yury Alam Fathullah dan Gus Royhan Imamul Muttaqin.

 


Kepada NU Online Banten (NUOB), Selasa (15/8/2023), Gus Yury melanjutkan ceritanya, saat mendirikan pesantren, Kiai Kabir yang mengaji kepada Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, selama 3 tahun, lalu disuruh pulang itu, cukup signifikan.’’Ada 200 santri,’’ ujar Gus Yury yang lahir di Serang, 1986 itu.

 


Termasuk yang menyampaikan pernah mengaji dengan Kiai Kabir adalah KH Ma’ruf Amin yang saat ini adalah wakil presiden Republik Indonesia itu. ’’Jadi ini pesantren termasuk tertua di Banten. Bahkan menurut beberapa penuturan, santri dari Banten yang mau boyong setelah mengaji di Tebuireng, sowan dulu ke Kiai Kabier sebelum sampai ke kediamannya,’’ ucap bapak tiga anak itu.  

 


Seperti diketahui, saat agresi militer Belanda II pada 1948, pesantren Kiai Kabier dibumihanguskan. Kiai Kabier dikejar. ’’Ada yang bilang sampai Purwakarta. Saat kembali lagi ke Kubang, sarung yang dikenakan terlihat bolong di beberapa bagiannya,’’ imbuh suami Ulfa Fauziah itu mengutip cerita neneknya. Lubang itu, akibat peluru yang mengenai sarung Kiai Kabier, tapi tubuhnya tidak apa-apa.

 


Kiai Kabier tidak langsung mendirikan pesantren lagi setelah dibakar Belanda. Apalagi kondisi belum stabil.’’Kiai Kabier diminta jadi wedana. Wilayah yang diurus lebih luas dari camat, tapi di bawah bupati.  Yang minta adalah Tubagus Ahamd Chatib ketika menjabat sebagai residen Banten. Kiai Kabier ditugaskan jadi wedana 3 tahun di Ciomas yang ketiga itu tidak kondusif menyusul pemberontakan DI/TII. Alhamdulillah terkendali,’’ ungkap Gus Yury yang menyelesaikan S1 tafsir di Universitas Al Azhar Kairo, Mesir, itu.

 


Keterhubungan Kiai Kabier dengan gurunya dan NU begitu kental. Setidaknya dapat dilihat ketika diminta menjadi anggota Konstituante. Tepatnya, sepulang dari Ciomas, Kiyai Kabier mendengar NU membuat partai. Dia diminta gurunya, Hadrotussyekh KH Hasyim Asy'ari terjun berjuang di Partai NU. ’’Kiai Kabier maju menjadi anggota Konstituante. Jadi, Kiai Kabier termasuk kiai, pejabat birokrat, dan politisi. Saya temukan beberapa tulisannya langsung di Konstituante. Hanya banyak tulisannya entah ke mana karena sebelum meninggal, kitabnya dibagi-bagikan ke santri-santrinya.  Saya coba mencari belum ketemu. Jadi karya berbentuk kitab atau buku, belum tahu,’’ ungkap pria empat saudara itu.

 


Hanya, lanjut wakil ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Banten itu, menemukan beberapa tulisan latin sebagai bahan berpidato. ’’Termasuk termuda.  Waktu itu tidak ada embel-embel kiai saat duduk di komisi Partai NU, barangkali malu karena di dalam ada guru-gurunya seperti KH Wahab. Nama yang tercantum Haji Abdul Kabier saja,’’ cerita pembina Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kabupaten Serang itu.

 


Setelah Konstituante dibubarkan, Kiai Kabier pulang ke kampung halamannya, Kubang, melanjutkan mengasuh pesantren.  Tapi, sempat diminta bergabung dengan Kementerian Agama mengisi suatu jabatan. ‘’Istri Kiai Kabier tidak setuju, kecuali tugasnya di Kubang. Saya dengar informasi, Kiai Kabier masih sering mondar-mandir ke Jakarta saat masih hidup,’’ tambah ketua Ikatan Alumni NU Indonesia Mesir Banten itu.

 


Setelah melalui sejumlah hal tersebut, imbuh kakak dari Gus Royhan itu, ada beberapa perubahan cara pandang tentang pendidikan. Kiai Kabier mendirikan lembaga pendidikan formal pada 1959-1960 seperti diniyah dan madrasah ibtidaiyah. Juga Muallimin dengan masa pendidikan selama 6 tahun.

 


’’Bahkan saya dapat informasi, banyak dari santri Kiai Kabier yang menjadi PNS (pegawai negeri sipil) atas rekomendasinya. Ini sudah menjadi rahasia umum dan bahkan ribuan santrinya menjadi guru pegawai negeri sipil. Inilah bagian perjuangannya agar santri-santrinya menjadi guru,’’ jelasnya.

 


Tak hanya itu, Kiai Kabier mendirikan perguruan tinggi Islam cabang di Petir. ’’Bekerja sama dengan UIN Jakarta (ketika itu belum bernama UIN), di wilayah yang masih perkampungan ini, Kubang. Ketika itu, jalan saja susah, tidak seperti sekarang. Namun, hanya 2 tahun berjalan. Inilah luar biasanya pemikirannya. Saking wawasannya sudah nasionalis,’’ tutupnya.

 


Kini Pondok Pesantren Nur El Falah Kubang punya banyak santri. Yang sekolah ada sekitar 2 ribu orang. Sedangkan yang tinggal di pondok ada sekitar 400 santri. Kini, ada MI, SMP, SMA, MTs, MA, SMK, dan Sekolah Tinggi Agama Islam KH Abdul Kabier (STAIKHA). Ada juga koperasi pesantren dan lembaga komputer. Pesantren berdiri di luas tanah 7 hektare. (Ade Adiyansah)


Tokoh Terbaru