• logo nu online
Home Nasional Banten Raya Warta Keislaman Tokoh Khutbah Sejarah Opini Pesantren NU Preneur Ramadhan 2023
Senin, 17 Juni 2024

Tokoh

Gus Dur, Kiai Hasyim Muzadi, dan Grand Syekh Ahmad Thayyeb

Gus Dur, Kiai Hasyim Muzadi, dan Grand Syekh Ahmad Thayyeb
KH Abdurrahman Wahid, KH Hasyim Muzadi, dan Grand Syekh Ahmad Thayyeb. (Foto: NU Online)
KH Abdurrahman Wahid, KH Hasyim Muzadi, dan Grand Syekh Ahmad Thayyeb. (Foto: NU Online)

MERASAKAN hidup di dunia penuh kedamaian tanpa adanya kekerasan menjadi impian umat manusia. Tidak heran, banyak tokoh berupaya menciptakan kondisi tersebut. Sebutlah Abraham Lincoln, Mahatma Gandhi, Martin Luther, Nelson Mandella yang namanya dikenang sejarah sebagai tokoh-tokoh yang terus mengampanyekan anti-kekerasan.  


Selain mereka, dari pihak Islam juga didapati banyak tokoh yang juga ikut aktif menyuarakan dunia diisi tanpa tindak kriminal dan kekerasan. Dilansir NU Online, setidaknya ada 3 tokoh Muslim di era kontemporer yang penulis catat di antaranya:


1. KH Abdurrahman Wahid

KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur merupakan tokoh yang aktif menyuarakan perdamaian. Tidak hanya skala nasional tapi juga internasional. Gagasan pemikirannya ini terlihat dari beragam penolakannya terhadap segala bentuk tindak kekerasan dan radikalisme, terutama yang menyudutkan Islam.  



Gus Dur tampil meluruskan persoalan yang terus merendahkan Islam itu. Bagi mantan ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini, permasalahan kekerasan bukan terletak pada agama Islam itu sendiri, melainkan oknum-oknum tertentu yang telah salah menafsirkan teks-teks keagamaan. Kemudian mengambil kesimpulan yang keliru dengan mengatakan bahwa tindak kekerasan dan terorisme merupakan bagian dari Islam. Padahal, Islam adalah agama yang menebarkan perdamaian dan kasih sayang kepada seluruh umat Islam.



Ketika menjabat sebagai presiden, keikutsertaan Gus Dur dalam menjaga perdamaian juga terlihat ketika ia mengambil jalan tengah dalam kasus GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Tatkala pejabat pemerintahan yang lebih memilih jalur kontak senjata dengan GAM, Gus Dur hadir meredam keinginan tersebut.  



Baginya, kontak senjata merupakan bentuk ketidaksabaran dalam mengambil keputusan. Hal itu hanya akan menambah kasus berkepanjangan dan menelan banyak korban yang tidak bersalah. (KH Abdurrahman Wahid, Islamku, Islam Anda, Islam Kita, [Jakarta, The Wahid Institute: 2006], halaman147-148)



Cara yang sama ini juga dilakukannya ketika menyelesaikan konflik berkepanjangan yang terjadi di Papua. Gus Dur memilih jalur dialog kemanusiaan dan berdiskusi dengan rakyat Papua.  



Di level global, Gus Dur dipercaya untuk mengemban amanat sebagai presiden WCRP (World Conference of Religion and Peace) pada 1994. Namanya diperhitungkan dunia dalam menyelesaikan beragam isu-isu kemanusiaan global. (Muhammad Aqil, Nilai-Nilai Humanisme dalam Dialog Antaragama Perspektif Gus Dur, Al-Adyan: Journal of Religious Studies, Vol. I, No. 1, 2020, hal. 53)



Berkat kegigihan usahanya tersebut, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memberinya penghargaan “Global Tolerance Award” dalam rangka peringatan Hari Toleransi Internasional 10 Desember. Nama Gus Dur telah diabadikan dunia sebagai sosok yang humanis dan juga pluralis.



2. KH Ahmad Hasyim Muzadi

Selain Gus Dur, figur KH Ahmad Hasyim Muzadi juga menjadi tokoh yang diperhitungkan dalam membawa angin perdamaian. KH Hasyim Muzadi membawa slogan Islam rahmatan lil ‘alamin, untuk memperkenalkan ajaran Islam yang sejati dan moderat kepada dunia.  


Mantan ketua umum PBNU 2 periode setelah Gus Dur ini, mengenalkan slogan tersebut sebagai lawan terhadap beragam tuduhan miring terhadap Islam yang seringkali diidentikkan dengan kekerasan, radikal, dan teroris. Terlebih setelah kasus 9/11 yang membuat adanya kesenjangan besar antara Barat dan Islam, karena Islam dituduh dalang dari tragedi tersebut. (Mukhlas Syarkun, Moh. Arifin, Jembatan Islam-Barat: Dari Sunan Bonang ke Paman Sam, [Yogyakarta: Penerbit PS, 2015], hal. 91-92)  



Dalam langkahnya, KH Hasyim Muzadi menggunakan jalur dialog untuk membangun kesepahaman dengan Barat. Baginya, jalur itulah yang cocok untuk menciptakan perdamaian, tata kelola dunia yang adil dan jauh dari kekerasan. Selain Barat, Kiai Hasyim juga mengkritik umat Islam yang telah jauh dari merepresentasikan Islam itu sendiri, yang masih berkutat pada teori dan kosong dari praktik.  



KH Hasyim Muzadi juga mendirikan ICIS (International Conference of Islamic Scholars) yang anggotanya terdiri atas para ulama, cendekiawan, pemerhati, dan pengamat muslim dari berbagai negara di dunia. (Ahmad Millah Hasan, Biografi Ahmad Hasyim Muzadi: Cakrawala Kehidupan, [Depok: Keira Publishing, 2018], Cet. I, halaman 270)  



Hadirnya ICIS bertujuan untuk meredam berbagai bentuk tindak kekerasan dan teroris yang terjadi di belahan dunia. Menjembatani hubungan Barat dan Islam. Melalui jalur konferensi, dialog, dan kunjungan ke berbagai negara, isu terorisme secara relatif dapat terkendali. Bahkan, beragam kebijakan ICIS mendapat respons positif oleh PBB hingga organisasi itu masuk dalam keanggotaan PBB non-pemerintah.  



Mengenai kasus-kasus internal umat Islam, KH Hasyim Muzadi juga ikut terlibat dalam menyelesaikan konflik seperti konflik Sunni-Syiah, masyarakat Muslim di Pattani Thailand, Sudan, Iran-Irak, Lebanon, dan lain sebagainya. Keterlibatannya menjadi bukti pengakuan dunia bahwa sosoknya sangat dibutuhkan dalam melawan beragam bentuk kekerasan dan menciptakan perdamaian.



3. Grand Syekh Ahmad Thayyeb

Ahmad Thayyeb yang merupakan grand syekh Universitas Al-Azhar juga sangat perhatian terhadap kasus kekerasan. Hingga sekarang ia masih terus aktif berdakwah menyerukan perdamaian dan menutup pintu radikalisme dan terorisme baik dalam forum maupun karya tulis.  



Salah satu jasa besarnya ialah menandatangani watsiqoh ‘an al-ukhuwah al-insaniyyah min ajli al-salam al-‘alami wa al-‘aisy ma’an, sebuah dokumen nota kesepahaman perjanjian persaudaraan kemanusiaan dengan Paus Fransiskus pada 2019 di Abu Dhabi. Dokumen tersebut berisi nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan sebagai respon melonjaknya angka kasus pelanggaran kemanusiaan.  



Dokumen itu menyerukan manusia untuk bersatu, menjamin keamanan satu sama lain, dan menghapus kelas mayoritas dan minoritas. Hal penting juga yang disebutkan dalam naskah tersebut bahwa agama tidak pernah menjadi kurir konflik atau pemantik rasa permusuhan, kebencian, kekerasan, dan pertumpahan darah.   Pada 2021, dokumen tersebut disambut antusias oleh PBB. Hasilnya 4 Februari ditetapkan sebagai International Day of Human Fraternity. Penetapan ini didasari karena melihat urgensinya nilai-nilai yang terkandung dalam dokumen kemanusiaan tersebut untuk kemaslahatan manusia.  


Grand Syekh Ahmad Thayyeb bersama Paus bersinergi untuk membangun kolaborasi dan kerja sama untuk menciptakan dunia yang lebih baik, mengadakan dialog tidak hanya lintas agama tapi juga lintas bangsa.  


Perhatian besar yang diberikan Grand Syekh Ahmad Tayyeb terhadap isu kemanusiaan dan menghadirkan dunia yang jauh dari kekerasan telah menempatkan namanya di nomor 1 dari 500 Tokoh Muslim paling berpengaruh di dunia. Prestasi tersebut ia terima dari The Royal Islamic Strategic Studies pada 2018.  



Hingga sekarang, Ahmad Thayyeb masih terlibat aktif dalam upaya perdamaian dunia khususnya antar agama dalam sebuah organisasi yang bernama Majelis Hukama Al-Muslimin (Muslim Council of Elders).  



Tiga tokoh tersebut merupakan tokoh-tokoh muslim yang tampil menyuarakan anti-kekerasan, membela hak-hak kemanusiaan untuk terus hidup aman, damai dan jauh daripada konflik. Penulis tidak menutup diri lebih banyak lagi tokoh Muslim selain dari ketiganya yang ikut andil melawan kekerasan.  

 



Muhammad Izharuddin, Mahasantri STKQ Al-Hikam


Tokoh Terbaru