• logo nu online
Home Nasional Banten Raya Warta Keislaman Tokoh Khutbah Sejarah Opini Pesantren NU Preneur Ramadhan 2023
Senin, 17 Juni 2024

Tokoh

KH Hasan Bisri Tegal, Sahabat Mengaji KH Bisri Musthofa Rembang di Tebuireng dan Makkah

KH Hasan Bisri Tegal, Sahabat Mengaji KH Bisri Musthofa Rembang di Tebuireng dan Makkah
Almaghfurlah KH Hasan Bisri. (Foto: Dok. Ustadz Solehudin)
Almaghfurlah KH Hasan Bisri. (Foto: Dok. Ustadz Solehudin)

KH Hasan Bisri adalah tokoh dari Kebagusan, Danasari, Bojong, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Di daerah tersebut juga terdapat destinasi wisata, namanya

Praban Lintang. Berdirinya lembaga pendidikan di Kebagusan, ketika itu, juga tak lepas dari peran Kiai Hasan yang ahir pada 12 Desember 1917. Ayahnya bernama Kiai Nawawi. 

 


Saat muda, Kiai Hasan di antaranya menimba ilmu di Pondok Pesantren Kempek, Cirebon, Jawa Barat. Setelah itu, ke Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, yang diasuh Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari. ’’Konon cerita dari masyarakat yang pernah mendengar langsung dari Kiai Hasan, perjalanan ke Pesantren Tebuireng dilalui dengan jalan kaki. Demikian pulangnya,’’ tutur Ustadz Solehudin, putra Kiai Hasan.



Di Tebuireng, Kiai Hasan bertemu dengan KH Bisri Musthofa Rembang, Jawa Tengah. Keduanya sama-sama mengaji kepada Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Dari segi usia, keduanya memang tidak terpaut jauh. Kiai Bisri Musthofa, ayah KH Mustofa Bisri dan KH Cholil Bisri itu lahir pada 1915, sedangkan Kiai Hasan pada 1917.

 


Kiai Bisri merupakan sosok yang dikenal sebagai mubalig dan juga penulis produktif. Salah satu karyanya adalah Tafsir Al-Ibriz, Tafsir Al-Qur’an yang ditulis dengan Jawa Pegon. Sedangkan Kiai Hasan menonjol dalam bidang ilmu Al-Qur'an, ilmu alat, dan fiqih.

 


Keduanya kembali bertemu antara 1955-1960an saat ama-sama menunaikan ibadah haji. Perjalanan haji waktu itu melalui jalur laut dan butuh berbulan-bulan. Ketika ibadah haji selesai, Kiai Hasan memilih mukim di Makkah, Arab Saudi, untuk menimba ilmu kepada di antaranya Syekh Alawi Al-Maliki. Demikian juga Kiai Bisri.



Selepas menimba Ilmu dan pulang dari Tanah Suci, Kiai Hasan menetap di Kebagusan, membuka pengajian. Santri berdatangan dari desa sekitar. Yang diajarkan adalah membaca Al-Qur’an dan kitab kuning. Termasuk Tafsir Al-Ibriz. "Awal mula mengajarkan Tafsir Al-Ibriz. Setelah khatam pengajian Tafsir Al-Ibriz, meminta muridnya untuk mengajarkan kembali di mushala-mushala dan juga di rumah masing-masing,’’ kenang Thahori, santri Kiai Hasan.



Sejak itu masyarakat Kebagusan akrab dengan Tafsir Al-Ibriz. Bahkan hampir setiap rumah memiliki kitab tersebut.  Sampai saat ini, Kitab Tafsir Al-Ibriz yang warnanya sudah menguning, cetakan 1 Oktober 1959 M, masih tersimpan dengan baik.



Persahabatan antara Kiai Hasan dan Kiai Bisri pun terjaga selepas pulang ke daerahnya masing-masing. Suatu ketika Kiai Bisri menikahkan anaknya. Mengundang Kiai Hasan yang tinggal di Tegal untuk hadir dan mengisi ceramah di Rembang. Namun karena Kiai Hasan merasa tidak biasa dakwah di panggung, hanya berkenan hadir. Sedangkan penceramah dia minta diganti yang lain.



Kiai Hasan juga dikenal ulet membangun usahanya. Di antaranya perkebunan dan persawahan. Tak heran, dikenal sebagai tuan tanah pada zamannya. Tanah yang dimilikinya tidak hanya tersebar di Kebagusan, tapi juga di Pucang Luwuk. Dulu, di Kebagusan dikenal sebagai sentra cengkeh, jagung, jeruk, bambu, singkong, kayu manis, dan kelapa. "Tugas urip ming nandur. Mulo yo nandur. Aja sungkanan." Demikian salah satu pesannya. Konon, pada 1970an sudah punya roda empat. Bayangkan, untuk ukuran orang desa dan jalan di kampung masih berupa jalan tanah. Karena tidak bisa masuk ke Kebagusan akibat faktor jalan, mobil pun dititipkan.



Dari Kiai Hasan dapat dipetik pelajaran, antara ilmu dan usaha yang ditekuni berjalan seirama. Banyaknya harta saat itu, tak membuatnya lupa diri. Tiap sore selepas Ashar, Kiai Hasan membaca kitab kuning dan tafsir Al-Qur’an. Selepas Maghrib hingga larut malam, mengajar ngaji.


Meski rumahnya terbilang mentereng, kesehariannya sederhana. Baik dalam hal berpakaian maupun makanan yang disantap. Kiai Hasan menikah dengan Hj Zuhroh, salah seorang putri kepala desa setempat saat itu, H Idris. Dari pernikahan tersebut dikarunia beberapa putra dan putri. Kiai Hasan meninggal pada 10 Muharram 1415 H/20 Juni 1994.

 


Muchlisin dan Saepullah, Santri Almaghfurlah KH Hasan Bisri Kebagusan, Tegal


Tokoh Terbaru