• logo nu online
Home Nasional Banten Raya Warta Keislaman Tokoh Khutbah Sejarah Opini Pesantren NU Preneur Ramadhan 2023
Senin, 17 Juni 2024

Tokoh

Mendedah Tafsir Jalalain; Antara Kiai Zainal Ringinagung dan Kiai Azaim Situbondo

Mendedah Tafsir Jalalain; Antara Kiai Zainal Ringinagung dan Kiai Azaim Situbondo
KH Zainal Abidin Ringinagung, Kediri (kiri) dan KHR Ahmad Azaim Ibrahimy Situbondo. (Foto-Foto montase: ist)
KH Zainal Abidin Ringinagung, Kediri (kiri) dan KHR Ahmad Azaim Ibrahimy Situbondo. (Foto-Foto montase: ist)

DI tangan KH Zainal Abidin, Tafsir Jalalain terasa seperti samudera ilmu bahasa. Salah seorang masayikh Pesantren Ringinagung, Kediri, Jawa Timur, ini bernas mengulas gramatikal kitab yang ditulis oleh dua Jalal; Imam Jalaluddin al-Mahalli (791-864 H) dan Imam Jalaluddin al-Suyuthi (849-911 H).



Setiap mengikuti pengajian Kiai Zainal, ilmu nahwu, sharaf, dan i'lal terasa bertaji. Dengan wasis, Kiai Zainal selalu merujuk dalil teoritisnya. Mulai dari al-Ajurumiyah, al-Amrithi, hingga Alfiyah Ibni Malik. Kiai Zainal hafal masing-masing ibarat atau bait dari ketiganya. Padahal sudah puluhan tahun lalu, kitab-kitab induk itu dihafal. Tepatnya saat nyantri di Ploso, Kediri.


Dari sisi sharaf dan i'lal Kiai Zainal detail "menguliti" kata demi kata. Wazan-wazan tashrif istilahi maupun lughawi secara simultan digunakan. Perpindahan kata dari tsulatsi mujarrad, tsulatsi mazid ruba'i, khumasi, hingga sudasi runtut dicontohkan. Dijelaskan pula faidah perpindahan dari satu wazan ke wazan lain. Apakah ta'diyah, muthawa'ah, takalluf, shairurah, thalab dan lain sebagainya. Dari model pengajian seperti ini, kami merasakan kecanggihan ilmu nahwu, sharaf, dan i'lal. Khususnya sebagai piranti memahami teks Arab.



Itu kenangan manis saat 20 tahun lalu ngaji Tafsir Jalalain di Pesantren Ringinangung, Pare, Kediri. Pesantren sepuh yang didirikan oleh Simbah Nawawi, kisaran tahun 1825 (sebagian mencatat tahun 1870). Pengalaman mengaji Tafsir Jalalain terulang lagi tahun ini, 2024, kami berkesempatan mengaji pasan (posonan) di Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur. Pesantren yang didirikan pada 1908 oleh KHR Syamsul Arifin, ayahanda KHR As'ad Syamsul Arifin (1897-1990), salah seorang pahlawan nasional.



Di pondok yang terletak di ujung timur bagian utara Pulau Jawa ini, pengajian Tafsir Jalalain diampu oleh KHR Ahmad Azaim Ibrahimy, cucu Kiai As'ad yang kini didapuk sebagai pengasuh Pesantren Situbondo. Murid Sayyid Muhammad al-Maliki (1944-2004) ini mengampu pengajian Tafsir Jalalain setiap pagi. Pukul 08.00 WIB. Bertempat di Pendopo Pengasuh. Disiarkan secara live di media pesantren. Santri membeludak di Pendopo. Bahkan, meluber hingga ke teras ndalem dan mushala.



Jika Kiai Zainal suka menganalisa kata dalam Tafsir Jalalain dari sisi gramatikal, maka Kiai Azaim senang menilik dari sisi sastra atau balaghah (bayan, ma'ani, dan badi'). Dari paparan Kiai Azaim, kita diantarkan untuk menikmati keindahan bahasa Al-Qur'an. Semisal sisi ijaz, ithnab, istihdlar, munasabah, muwafaqah, majaz, kinayah, dan lain sebagainya. Selain itu, di banyak ayat, Kiai Azaim juga memberikan keterangan hikmah atau isyarat ayat. Semisal pentingnya keseimbangan raja' (pengharapan) dan khauf (takut) kepada Allah. Pentingnya ridha terhadap maqam yang telah diberikan. Salah satu rujukan dalam tilikan tasawuf ini adalah kitab al-Hikam karya Syekh Ibnu Athaillah al-Sakandari (658-709 H).



Selain dari sisi balaghah, di tangan Kiai Azaim, kami merasakan keluasan literatur tafsir. Meskipun yang dibaca adalah Tafsir Jalalain, tetapi Kiai Azaim memberikan keterangan penting dari kitab tafsir lain. Semisal Tafsir al-Qusyairi, Tafsir al-Qurthubi, Tafsir al-Shawi, Tafsir al-Sya'rawi, dan lain sebagainya. Tentu, Kiai Azaim juga mengutip keterangan Sayyid Muhammad Al-Maliki dan Syekh Ali al-Shabuni (1930-2021). Kedua terakhir ini adalah guru Kiai Azaim. Kitab Tafsir  Rawa'i al-Bayan dan Tafsir al-Muyassar sering dirujuk.



Dari kedua guru mulia ini, kita dapat menikmati keindahan dan keluasan ilmu. Masing-masing saling melengkapi. Menjadi kompas dalam kita memahami turats. Satu di antaranya adalah Tafsir Jalalain.

Semoga kelak kita dikumpulkan dengan orang-orang sholih nan mulia di surga-Nya.

 


Muhammad Hanifuddin, Ketua Lembaga Bahtsul Masail PCNU Tangsel dan Dosen Ma'had Darus-Sunnah Jakarta


Tokoh Terbaru