• logo nu online
Home Nasional Banten Raya Warta Keislaman Tokoh Khutbah Sejarah Opini Pesantren NU Preneur Ramadhan 2023
Jumat, 1 Maret 2024

Nasional

Benteng NKRI, Keberadaan Pesantren NU Harus Diperhatikan

Benteng NKRI, Keberadaan Pesantren NU Harus Diperhatikan
KH Syamsul Falah di Graha Aswaja NU, Ciputat. (Foto: PCNU Tangsel for NU Online Banten)
KH Syamsul Falah di Graha Aswaja NU, Ciputat. (Foto: PCNU Tangsel for NU Online Banten)

Tangerang Selatan, NU Online Banten
Menjamurnya pesantren belakangan ini, hendaknya dibarengi dengan memperkuat pemahaman antiradikalisme. ’’Agar negara ini tidak mudah dipecah belah dan di adu domba dari paham-paham ekstrem yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini,’’ ujar Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah, Kranji, Paciran, Lamongan, Jawa Timur (Jatim) KH Syamsul Falah kepada NU Online Banten di Graha Aswaja NU, Ciputat, Rabu (1/2/2023). 


Doktor yang mengajar di Universitas Hasyim Asy’ari Jombang itu melanjutkan, apalagi pesantren yang berafiliasi NU. ’’NKRI harga mati. Jadi mau tidak mau kita harus memperjuangkan negara ini menjadi negara yang rahmatan lil'allamin baldatun toyibatun gofur bagi seluruh alam, jagat raya ini,’’ imbuh cucu pendiri Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah itu.


Pria yang mewakili Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah menerima penghargaan dari Pengurus Besar (PB) NU sebagai salah satu pondok pesantren tertua bersama puluhan penerima lainnya di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta (31/1/2023) itu menambahkan, NU mengedepan islah diniyah. ’’Itu sebagaimana tadi dalam acara di TMII yang disampaikan Wapres KH Ma'ruf Amin, NU itu menjaga ishlah diniyah dan kemaslahatan diniyah harus dipegang di NU. NU itu tidak semata-mata membuat organisasi, tetapi bagaimana menjaga jagad ini dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini agar aman, damai, dan sentosa menjadi contoh buat negara-negara lain sebagai peradaban dunia,’’ jelas pria yang merintis cabang  Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah di Jombang tersebut. 


Dia juga berharap, sebagai pemangku pondok pesantren yang berafiliasi NU, keberadan pondok pesantren NU ini betul-betul harus diperhatikan. ’’Dan selalu diberi perhatian oleh pemerintah. Tidak hanya sekadar saat dibutuhkan saja oleh pemerintahan, lalu setelah selesai dilupakan demi kepentingan-kepentingan golongan kelompok atau pribadi,’’ ingatnya. 


Dalam kesempatan itu, dia bercerita bahwa Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah di Kranji, Paciran, sudah berusia lebih dari 1 abad. ’’Berdiri pada 1898 oleh KH Mustofa. Masih dzuriyah (keturunan) Sunan Drajat (salah seorang Wali Songo). Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari pernah ngaji sama KH Mustofa yang nyantri di Langitan, Jawa Timur. Lebih tua sedikit dari Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, yang didirikan oleh Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari,’’ jelasnya. 


Sama seperti Pondok Pesantren Tebuireng, nama awal yang dikenal adalah Pondok Pesantren Kranji, sebelum belakangan bernama Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah. ’’Putra dari KH Mustofa yang memberikan nama Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah,’’ tambahnya. 


Saat ini yang mondok ada sekitar 1200 santri baik laki maupun perempuan. Pesantren ini lebih mendalami kitab kuning. ’’Saat ini pesantren dipimpin oleh KH Muhammad Nasrullah,’’ tambahnya.


Dia juga bersyukur pondok yang didirikan kakeknya mendapatkan penghargaan menjelang momen 1 abad NU sebagai salah satu pesantren tertua. ’’Ini salah satu gebrakan dan inovasi baru yang akan menjadikan kami semangat baru. Bagaimanapun juga pesantren adalah sebagai benteng pertahanan NKRI. Ada sebuah kebanggaan bagi kami sebagai bentuk apresiasi karena yang memberikan penghargaan ini PBNU,’’ ungkapnya.



Pewarta : Ade Adiyansah


Nasional Terbaru