• logo nu online
Home Banten Raya Ubudiyyah Warta Nasional Fragmen Keislaman Syariah Tauhid Tokoh Khutbah Sejarah Doa Opini Hikmah Pendidikan Islam Wisata Religi NU Preneur
Rabu, 30 November 2022

Opini

Islamphobia, Sensivitas Isu Agama, dan Sikap Umat Islam

Islamphobia, Sensivitas Isu Agama, dan Sikap Umat Islam
Ilustrasi (NU Online)
Ilustrasi (NU Online)

Kini hangat kembali soal Islamphobia sebagai isu jelang Pemilu, bisa jadi dihembuskan untuk menarik perhatian publik umat Islam agar mendukung upaya-upaya politis dari kelompok tertentu dengan agama sebagai tema besar yang efeknya gejolak, konflik dan benturan horizontal. 

 

Semacam cek ombak melihat perkembangan yang ditimbulkan dengan sodoran agama dan isu-isu yang menghiasinya. Naif memang jika politisi dan kelompok tertentu menggunakan agama sebagai komoditas politik hanya untuk kepentingan kursi kekuasaan. 

 

Baru-baru ini ada yang menggerakkan anti Islamphobia dengan berbagai deklarasinya, menuntut ini dan itu agar tidak boleh ada di bumi Indonesia ini yang phobia atas Islam, sementara itu radikalisme agama pemicu sikap phobia tersebut tidak sama sekali disikapi sebagai penolakan justru jadi pembiaran. Seolah teriak berengsek ke orang lain sementara dirinya juga bajingan. 

 

Islamphobia adalah pandangan dan sikap yang mengandung prasangka, ketakutan, dan kebencian terhadap Islam dan orang-orang Islam. Istilah ini sudah lama berkembang awalnya di Barat dan dalam era mutakhir menguat menjadi pandangan global setelah tragedi serangan teroris 11 September 2001. 

 

Di ranah global maupun di Tanah Air Indonesia kecenderungan alergi dan anti Islam ini bercampur aduk dengan berbagai masalah yang tidak sederhana. Termasuk terkait dengan kontestasi politik aliran.

 

Apalagi di masyarakat Barat yang liberal-sekuler yang menempatkan agama di ranah privat dan domestik dengan kecenderungan anti-agama (agnotis) dan anti-tuhan (ateis) yang memiliki kebebasan untuk hidup di masyarakat dan dijamin kebebasannya ( Haedar Nashir: 2021 ). 

 

Karen Armstrong, orang Barat yang paham Sejarah Islam dan penulis A History of God, pernah menulis artikel panjang tentang akar Islamphobia yaitu 'We Cannot Afford to Maintain These Ancient Prejudices Against Islam' (Kita tidak mampu mempertahankan prasangka kuno ini terhadap Islam). 

 

Karen menjelaskan, bahwa fantasi menakutkan yang diciptakan oleh orang Eropa saat ini bertahan selama berabad-abad dan mengungkapkan kegelisahan yang terkubur tentang identitas dan perilaku Kristen. 

 

Ketika para paus menyerukan Perang Salib ke Tanah Suci, orang-orang Kristen sering menganiaya komunitas-komunitas Yahudi setempat: mengapa berbaris 3.000 mil ke Palestina untuk membebaskan makam Kristus. 

 

Karen mengatakan bahwa " Yesus memang telah mengatakan kepada para pengikutnya untuk mengasihi musuh-musuh mereka, bukan untuk memusnahkan mereka.

 

Namun, ketika orang-orang Kristen di Eropa berperang dengan brutal melawan Muslim di Timur Tengah, itulah sosok Islam pertama kali dikenal di barat sebagai agama pedang. Dalam keadaan penolakan yang tidak sehat itulah, orang-orang Kristen Eropa kala itu memproyeksikan kegelisahan ‘bawah tanah’-nya tentang kegiatan mereka kepada para korban Perang Salib.

 

Mereka menciptakan musuh-musuh yang fantastis dalam citra dan rupa yang mereka buat sendiri. Kebiasaan ini telah dan terus bertahan. Dan orang-orang Muslim pun telah begitu keras menentang pencemaran Islam dengan menuduhnya orang Eropa "munafik".  

 

Insitusi keagamaan oleh orang Eropa mereka tempatkan di tempat yang salah untuk mengutuk ‘jihad kekerasan’ ketika mereka sendiri bersalah atas kekerasan tidak suci dalam perang salib, yakni berupa penganiayaan. Apalagi dahulu di bawah Paus Pius XII, diam-diam dia memaafkan tindakan Holocaust Nazi ". 

 

Kita melihat Indonesia, bagaimana akar Islamphobia itu timbul ? Merujuk pada Global Terrorism Database, di Indonesia telah terjadi sekitar 421 tindak terorisme dalam kurun waktu dari tahun 1970-2007.

 

Beberapa alasan mengapa kelompok yang mengatasnamakan Islam melakukan aksi teror di Indonesia di antaranya adalah kekecewaan terhadap pemerintahan yang ada, tidak diberlakukannya syariat Islam secara menyeluruh, anggapan bahwa akan terbukanya jihad fisabilillah (Mubarak, 2015). 

 

Bahkan akar tersebut bisa kita baca pada soal kekeliruan dalam memaknai jihad. Islam di Indonesia hari ini yang cenderung terlihat kasar, kaku, dan keras menimbulkan stigma di luar Islam atau bahkan di dalam Islam itu sendiri juga menimbulkan Islamphobia. 

 

Islamphobia juga digunakan untuk memunculkan citra dan perilaku buruk terhadap politik Islam dan masyarakat muslim secara keseluruhan (Syarif Mugni : 2020 ). 

 

Lalu, apa yang perlu sikapi ketika ada fenomena ini, ada yang phobia ada pula yang anti phobia? Sah-sah saja model gerakan anti Islamphobia itu didasari murni pencerahan atas non muslim bahwa Islam itu rahmatan lil alamin, bukan agama ancaman, bukan agama kekerasan, bukan agama yang anjurakan kekerasan seksual, bukan juga agama bengis dan biadab. 

 

Gerakan anti Islamphobia jangan lalu dipolitisir, ditarik-tarik sebagai bahan komoditas dari kepentingan politik dari kelompok politik tertentu. 

 

Wajar menyurakan kegelisahan untuk menolak Islamphobia ketika ada upaya kebencian pada Islam itu dipicu karena melonggarnya tindakan-tindakan fundamentalis dari sebagian kecil umat Islam, sekaligus teramputasinya gerakan-gerakan strukturisasi Islam dalam negara. 

 

Sepertinya jadi peluang untuk melakukan pembalasan meski dengan sekedar opini liar di pelbagai media. Sikap kita pun tidak bosan untuk terus memberikan pencerahan pada yang phobia atas Islam, bahwa kita muslim yang moderat, dan kita orang Indonesia, kita pula yang menjaga kebhinekaan. Keamanan dan kedamaian adalah tujuan, dan dasarnya adalah saling menghargai.

 

Agamamu adalah agamamu, dan agamaku adalah agamaku. Tidak boleh saling benci, justru kita saling asah, asih dan asuh menuju Indonesia baldatun toyyibatun wa robbun ghofuur. 

 

Hamdan Suhaemi, Wakil Ketua PW GP Ansor Banten dan Ketua PW Rijalul Ansor Banten


Opini Terbaru