• logo nu online
Home Nasional Banten Raya Warta Keislaman Tokoh Khutbah Sejarah Opini Pesantren NU Preneur Ramadhan 2023
Jumat, 1 Maret 2024

Ramadhan

Manifestasi Islam, Iman, dan Ihsan

Manifestasi Islam, Iman, dan Ihsan
Kitab Arbain Nawawiyah. (Foto: NU Online)
Kitab Arbain Nawawiyah. (Foto: NU Online)


عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ،
فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً
قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ
قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ.
قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ .
قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا،
قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا،
ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ . رَوَاهُ مُسْلِمٌ


‘’Dari Umar radhiyallahu’anhu juga dia berkata, “Ketika kami duduk-duduk di sisi Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya.’’


Hingga kemudian dia duduk di hadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lutut Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, seraya berkata, “Wahai Muhammad, beritahukanlah kepadaku tentang Islam?”


Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, ’’Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji ke Baitullah jika engkau mampu menempuh jalannya.”


Kemudian dia berkata, “Kamu benar“. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang  membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi, “Beritahukanlah kepadaku tentang Iman’’


Nabi bersabda, “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” Kemudian dia berkata, “Kamu benar.” 


Dia berkata lagi, “Beritahukan aku tentang ihsan.”
Nabi bersabda, ’’Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak mampu melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.”


Kemudian dia berkata, “Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya).”


Nabi bersabda, “Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya” Dia berkata,  “Beritahukan aku tentang tanda-tandanya.” Nabi bersabda, ’’Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian) berlomba-lomba meninggikan bangunan.”
Kemudian orang itu berlalu dan aku (Umar) berdiam diri sebentar.


Selanjutnya Rasulullah bertanya, “Tahukah engkau siapa yang bertanya?” Aku berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.” (Riwayat Muslim) - (Imam an-Nawawi, al-Arba’în an-Nawawiyah, Beirut: Dar el-Minhaj, cetakan pertama, 2009).


Untuk memudahkan pemahaman akan manifestasi Islam dalam kehidupan sehari-hari bagi seorang muslim adalah meyakini Islam sebagai agamanya. Dan dalam batas pengakuan ini seseorang sudah masuk dalam kategori selamat. Tapi bukan selamat secara kaffah, sebelum melaksanakan rukun Islam secara kontinu, yang niat beribadahnya ditujukan kepada Allah dan cara beribadahnya mengikuti Rasulullah, para sahabat, tabiin, tabiut tabiin, dan alim ulama.


Bagaimana dengan manifestasi Iman? Jika disandingkan antara Islam dan Iman, maka akan mengerucut pada pemahaman bahwa rukun Islam yang dilaksanakan bersifat ibadah lahiriyah, yang dikemas dalam bentuk suatu keyakinan percaya atau meyakini  adanya Allah. 


Muslim yang beriman, semua proses ibadah dilaksanakan secara tuntas, karena meyakini bahwa perintah ibadah adalah perintah Allah. Muslim yang Mukmin sangat yakin  perbuatannya nanti dipertanggungjawabkan pada hari pembalasan, karena dia meyakini dunia akan hancur dengan datangnya hari kiamat, setelah itu saatnya hisab dan keadilan di tegakkan serta takdir baik dan buruk sebagai makhluk akan ditentukan. Sebagaimana Allah berfirman QS Al-Zalzalah 7-8:


  فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ (٧) وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ (٨


Artinya, (7) "Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya. (8) Siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya.’’


Dalam proses manifestasi Islam dan Iman maka, ada yang menjadikan tingkatan seorang Muslim dan Mukmin berbeda, yakni dengan adanya sikap Ihsan.  secara etimologi Ihsan diartikan 


قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ


“Beritahukan aku tentang ihsan.”Beliau bersabda, “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak mampu melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.”


Ihsan merujuk pada kekhusyukan dalam beribadah, memperhatikan hak Allah dan menyadari adanya pengawasan Allah kepadanya serta keagungan dan kebesaran Allah selama menjalankan ibadah. Ihsan menjadi sikap paripurna dalam melaksanakan ibadah. Secara qolbu dimanifestasikan dengan kekhusyukan dan secara kesadaran lahiriyah seorang Muslim dan Mukmin, melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah dalam keadaan tanpa perlu adanya paksaan.


Inilah yang membedakan level pengamalan Islam dan Iman seseorang, karena adanya sikap Ihsan. Orang yang sudah Muhsin, maka dia akan menjadi hamba Allah yang taat, ikhlas, peduli, dan mempunyai kesadaran dalam melaksanakan tugasnya sebagai hamba Allah, yang senantiasa merasa diawasi oleh Allah. 


Wallahu a'lam


Abdulah Faqih, Wakil Sekretaris Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama Tangsel

Editor: M. Izzul Mutho


Editor:

Ramadhan Terbaru