• logo nu online
Home Nasional Banten Raya Warta Keislaman Tokoh Khutbah Sejarah Opini Pesantren NU Preneur Ramadhan 2023
Senin, 17 Juni 2024

Opini

Bullying

Bullying
Hati-hati dengan bullying. (NUO)
Hati-hati dengan bullying. (NUO)

AKHIR-akhir ini kasus perundungan (bullying) yang terjadi di Indonesia menyita perhatian banyak pihak. Pasalnya, perilaku ini dilakukan oleh siswa sekolah dasar dan menengah dengan fakta yang juga tidak kalah mengejutkan.


Perundungan adalah perilaku agresif yang dimaksudkan untuk menyebabkan penderitaan atau bahaya, melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan atau kekuatan antara penyerang dan korban, dan terjadi berulang kali dari waktu ke waktu. Jika dilihat dari segi bahasa bullying berasal dari bahasa Inggris, yang asal katanya bullying jika diartikan dalam bahasa Indonesia berarti menggertak atau menindas. Secara harfiah, bullying berasal dari kata bullying yang artinya pemarah, orang yang suka marah.


Ada beberapa kasus bullying di Indonesia dalam setahun terakhir. Pertama, hingga 40 persen kasus bunuh diri anak di Indonesia terkait dengan intimidasi, menurut mantan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa. Kedua, Global School-based Health Survey (GSHS) 2015 menemukan bahwa 20,6 persen siswa berusia 13-17 tahun melaporkan bahwa telah diintimidasi selama 30 hari terakhir. Ketiga, perundungan di sekolah dan saudara kandung terjadi di Indonesia. Meskipun anak-anak melaporkan lebih sering diganggu secara fisik oleh saudara kandung daripada oleh anak-anak lain di sekolah. 


Keempat, sekitar 15,5 persen siswa kelas 11 di sekolah menengah atas menyatakan bahwa mereka diintimidasi. Kelima, seorang siswa SMP berusia 14 tahun membakar sekolahnya karena intimidasi oleh teman-temannya. Keenam, Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mencatat dalam dua bulan pertama pada 2023 saja, terdapat enam kasus bullying atau kekerasan fisik dan 14 kasus kekerasan seksual di lembaga pendidikan. 


Ketujuh, ada empat kasus bullying yang terjadi selama bulan Juli 2023, yaitu bullying terhadap 14 siswa SMP di Kabupaten Cianjur yang mengalami kekerasan fisik. Kedelapan, kasus bullying yang diduga terjadi di SDN 06 Pesanggrahan, Jakarta Selatan yang mengakibatkan siswa meninggal jatuh dari lantai 4 setelah ejekan temannya berujung dorongan yang mengakibatkan siswa terjatuh. Kesembilan, bullying siswa SMP di Cimanggu, Cilacap, Jawa Tengah yang dianiaya berkali-kali oleh temannya.


Penting untuk dicatat bahwa ini hanya beberapa kasus yang telah dilaporkan, dan mungkin ada lebih banyak kasus yang tidak dilaporkan. Bullying adalah masalah serius yang dapat memiliki efek jangka panjang pada kesejahteraan mental dan emosional para korban. Penting bagi orang tua, guru, dan masyarakat untuk bekerja sama mencegah dan mengatasi bullying dalam segala bentuknya.


Sementara itu, banyak bentuk bullying. Menurut Barbara Coloroso, penulis buku The Bully, the Bullied, and the Bystander (buku nonfiksi 2003) dibagi menjadi empat jenis, yaitu: bullying fisik, bullying verbal, bullying relasional, dan bullying elektronik. Sisi lainnya dalam penelitian yang dilakukan oleh Rahma Nuraini pada 2008, ditemukan beberapa karakteristik pelaku bullying, yaitu: tidak memiliki rasa empati, tidak memiliki rasa bersalah atau menyesal, dan cenderung menunjukkan perilaku agresif.


Lebih lanjut, beberapa faktor yang menyebabkan bullying terjadi antara lain karena adanya ketidakseimbangan kekuasaan, adanya perbedaan fisik atau psikologis, dan adanya lingkungan yang mendukung perilaku bullying. Adapun dampak bullying menimpa psikologis korban, seperti depresi, kecemasan, dan trauma. Selain itu, bullying juga dapat memengaruhi prestasi akademik dan sosial korban.


Mengatasi permasalahan bullying diperlukan sinergi bersama pada ranah lingkungan pendidikan seperti keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah (pengamatan pada akses konten penyebab bullying). Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan kesadaran tentang bahaya dan dampak dari perilaku bullying serta memberikan edukasi tentang cara mengatasi dan mencegah bullying.


Lingkungan pendidikan adalah segala sesuatu yang melingkupi proses berlangsungnya pendidikan. Lingkungan pendidikan dapat berupa lingkungan fisik, sosial, budaya, keamanan, dan kenyamanan. Secara umum, lingkungan yang dapat berpengaruh terhadap pendidikan adalah lingkungan fisik atau alam sekitar, lingkungan sosio-kultural, lingkungan sosio-budaya, dan lingkungan teknologi dan informasi. Lingkungan pendidikan dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. 


Pertama, lingkungan keluarga. Lingkungan keluarga merupakan pusat pendidikan yang pertama dan utama yang dialami oleh anak. Orang tua menjadi pionir di keluarga. Fungsinya meliputi proteksi, fungsi inisiasi, fungsi sosialisasi, dan fungsi edukasi.


Kedua, lingkungan sekolah. Sekolah menjalankan tugas mendidik anak yang sudah tidak mampu lagi dijalankan oleh keluarga. Lingkungan sekolah jadi tempat kedua bagi pendidikan anak. Lingkungan sekolah merupakan salah satu faktor yang turut mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak terutama untuk kecerdasannya.


Ketiga, lingkungan masyarakat. Lingkungan masyarakat meliputi lingkungan sosial yang baik kelompok besar atau kelompok kecil. Lingkungan masyarakat juga dapat mempengaruhi pendidikan anak, seperti kondisi ekonomi keluarga, rendahnya kondisi ekonomi dan rendahnya pendidikan orang tua.


Lingkungan pendidikan yang baik punya andil mendukung pencapaian tujuan pendidik secara optimal. Oleh karena itu, lingkungan pendidikan haruslah digambarkan sebagai kesatuan yang utuh di antara berbagai ragam bentuknya.


Tiga lingkungan di atas juga penting diintegrasikan pada ranah lingkungan pemerintahan. Artinya pemerintah menjadi jembatan penghubung antara lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, serta lingkungan masyarakat. Pemerintah punya kewenangan mencegah terjadinya bullying pada anak melalui perangkat kebijakannya yang senantiasa disolialisasikan dan diterapkan.


Wallahu a’lam bisshawab


Singgih Aji Purnomo, Dosen STAI Al-Amanah Al-Gontory, Jurnalis NU Online Banten


Opini Terbaru