• logo nu online
Home Banten Raya Ubudiyyah Warta Nasional Fragmen Keislaman Syariah Tauhid Tokoh Khutbah Sejarah Doa Opini Hikmah Pendidikan Islam Wisata Religi NU Preneur
Senin, 15 Agustus 2022

Opini

Tradisi Berpuisi Kaum Santri dan Citarasa Sastra Pesantren

Tradisi Berpuisi Kaum Santri dan Citarasa Sastra Pesantren
(Foto: Tangkapan layar Youtube TVNU)
(Foto: Tangkapan layar Youtube TVNU)

Puisi dan pengarangnya bagai tongkat dan gagangnya. Metafora dan rima merupakan dua unsur sangat penting dalam puisi. Meskipun hiperbola, puisi tetap membutuhkan kejujuran rasa. Sebuah tulisan yang sedemikian rupa sehingga memiliki nilai estetika.

 

Sastra adalah ungkapan dari ekspresi manusia berupa karya tulisan atau lisan berdasarkan pemikiran, pendapat, pengalaman, hingga melibatkan perasaan dalam bentuk yang imajinatif, estetika, dan cerminan kenyataan. 

 

Sastra pesantren adalah bagian dari konstruksi wacana religius-humanis yang dihadirkan melalui nilai-nilai kemanusiaan khas kalangan Pesantren, dengan kata lain Sastra pesantren itu produk karya-karya yang secara penuh mengeksplorasi tradisi (kebiasaan-kebiasaan) di pesantren yang memiliki unsur psikologi pesantren dengan struktur agama yang begitu kuat.

 

Melalui puisi kaum santri dapat membangun kembali sejarah penting nuansa citarasa sastra pesantren. 

 

'Sastra Pesantren' dapat dimaknai sastra yang ditulis oleh orang-orang pesantren; (kiai, santri, alumni).

 

Sebagaimana halnya dengan komposisi narasi puisi yang dibacakan oleh KH D. Zawawi Imron (Puisi : Bismillah, Manaqib Tongkat Syaikhuna Kholil Bangkalan), puisi tersebut dikumandangkan pada perayaan acara puncak Harlah-99 NU (Nahdlatul Ulama) di Pondok Pesantren Syaikhuna Kholil, Bangkalan. Kamis malam, (17/02). 

 

Paling tidak ada empat unsur yang membentuknya dan menjadi sebuah karya puisi yang bikin bulu kuduk merinding. Pertama, majas (figuratif). Kedua, tasbih (image atau citraan). Tiga, tamsil (simbol perumpamaan) dan istiarah (metafora).  

 

Bahkan tak jarang pengalaman mistik yang bersinggungan dengan pengalaman estetik. Menjadi kata-kata puitik. Sastra pesantren adalah istilah untuk menyebut karya sastra yang hidup dan diciptakan kalangan pesantren, atau karya sastra yang bermuatan misi dakwah sesuai kebutuhan selera zaman. 

 

Melalui karya puisi Kiai Zawawi yang berjudul "Bismillah, Manaqib Tongkat Syaikhuna Kholil" tersebut serasa mengajak saya menuju pada 'telaga sejarah indah' bahwa Syaikhuna Kholil, Bangkalan adalah gurunya para ulama.

 

Tak luput juga dengan beberapa manuskrip karya-karya beliau yang menggugah citarasa sastra khas Ulama Nusantara tentunya perlu dijaga dan dirawat dengan penuh keta'dziman dan kecintaan.

 

وقال النبي صلى الله عليه وسلم: من أكرم عالما فقد أكرمني، ومن أكرمني فقد أكرم الله، ومن أكرم الله فمأواه الجنة

 

Nabi SAW bersabda : “Barangsiapa memuliakan orang alim maka ia memuliakan aku, barangsiapa memuliakan aku maka ia memuliakan Allah, dan barangsiapa memuliakan Allah maka tempat kembalinya adalah surga.” (Kitab Lubabul Hadits). 

 

Abdul Majid Ramdhani, Pegiat Lembaga Seni dan Budaya Muslimin (Lesbumi) Nahdlatul Ulama Tangerang Selatan


Opini Terbaru