• logo nu online
Home Nasional Banten Raya Warta Keislaman Tokoh Khutbah Sejarah Opini Pesantren NU Preneur Ramadhan 2023
Jumat, 31 Mei 2024

Tokoh

Mengenang KH Munawir Abdurrohim, Pengasuh PPMAC Kota Banjar

Mengenang KH Munawir Abdurrohim, Pengasuh PPMAC Kota Banjar
Almarhum wal maghfurlah KH Munawir Abdurrohim (Foto: NUO Jateng/M Ngisom Al-Barony)
Almarhum wal maghfurlah KH Munawir Abdurrohim (Foto: NUO Jateng/M Ngisom Al-Barony)

KEPERGIAN KH Munawir Abdurrohim untuk selamanya tentu menyisakan duka yang mendalam. Terkhusus bagi keluarga besar Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo (PPMAC) Kota Banjar, Jawa Barat. Ya, Kiai Munawir wafat pada Sabtu (9/3/2024) sekitar pukul 08.30 WIB.

 

Putra pertama KH Abdurrohim tersebut menghembuskan napas terakhirnya di Patorman Medical Center (PMC) Kota Banjar setelah mendapatkan perawatan medis akibat sakit yang dialaminya. Pengasuh PPMAC KH Harir Muharir Abdurrohim menjelaskan, kakaknya tersebut sebelumnya mengalami sakit. Meski awalnya kondisinya semakin membaik, Allah swt berkehendak lain.

 


"Kamis sore almarhum dibawa ke rumah sakit. Tadi malam kami sekeluarga seluruhnya menunggu sampai setengah 11 malam kondisi kesehatan makin membaik. Namun, tadi pagi jam 08.30 WIB meninggal dunia," jelasnya sebagaimana dilansir NU Online Jateng.

 


Setibanya di rumah duka di Kompleks Pesantren Miftahun Huda Al Azhar Citangkolo, jenazah sudah dinanti keluarga besar, ribuan santri, dan masyarakat. Selanjutnya jenazah dimakamkan sekitar pukul 11.00 WIB, berdekatan dengan makam ayahnya, KH Abdurrohim di Kompleks PPMAC.


Seperti diketahui, PPMAC, Kota Banjar, Jawa Barat, pernah dikunjungi belasan ribu orang dari berbagai provinsi di Indonesia. Mereka hadir ke pesantren itu.

Termasuk Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden KH Amin Ma'ruf beserta sejumlah menterinya, termasuk gubernur Jawa Barat, bupati maupun wali kota di Jawa Barat pada Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019.

 

KH Munawir Abdurohim bersama adiknya almagfurlah KH Muslih Abdurohim termasuk jajaran pengurus Ifadliyyah Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (Jatman) pusat periode 2018-2023.

 

Dia juga menjabat sebagai ketua Jatman NU Jawa Barat. Selain itu, ia juga menjadi ketua STAIMA Kota Banjar, kepala SMP Al-Azhar Citangkolo, dan juga SMK Al-Azhar Kota Banjar.



Sebelum meninggal, saat sekitar Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019, NU Online pernah melakukan wawancara dengan Kiai Munawir. Kiai Munawir  lahir 1953. Nyantri di Cirebon, lalu ke Babakan Ciwaringin. Lanjut ke Mranggen, Demak, Jawa Tengah. Kemudian ke Lirboyo, Jawa Timur, tabarukan, lalu ke pesantren Bandung, Al-Jawami. Tak sampai di situ. Melanjutkan ke Mesir pada 1980-1987.



’’Saya merantau 17 tahun dari 1970 sampai 1987. Anak saya delapan, dua sudah berkeluarga, yang lain masih belajar. Cara mengkader anak sangat mudah dengan uswatun hasanah (teladan yang baik, Red),’’ ujarnya.



Pada kesempatan itu, Kiai Munawir juga menyampaikan, sejarah singkat pesantren dirintis pada 1911 oleh kakeknya, KH Marzuqi. Diteruskan bapaknya, KH Abdurrohim.


’’Sekarang dilanjutkan oleh saya, Munawir Abdurohim. Sekarang generasi yang ketiga. Jumlah santri yang di asrama atau di kobong ada 3.300. Semuanya yang berada dii naungan lembaga pendidikan pesantren ini ada 7000. Semuanya adalah Nahdliyin dan Nahdliyat,’’ ujarnya ketika itu.



Lembaga pendidikan mulai dari PAUD, TK, MI, SMP, MTs, SMA, SMK, dan perguruan tinggi, dengan program studi tarbiyah, ahwalus syahsiyah syariah, ekonomi Islam, dan pendidikan guru. 



Menurut Kiai Munawir, pengembangan pesantren, pertama, pesantren harus tumbuh di tengah-tengah masyarakat. Kedua, pesantren harus didukung oleh masyarakat karena tumbuh di masyarakat. Ketiga, pesantren harus bisa mempersatukan antara budaya lokal dengan budaya agamis. Harus bisa disatukan. Keempat, pondok pesantren harus punya tiga pilar pokok. Pilar pertama adalah shalat berjamaah. Kedua, harus membaca Al-Qur’an. ’’Kalau di sini, setiap hari, satu juz Al-Qur’an tiap santrinya. Sehari harus satu juz. Ketiga, adalah sregep ngaji, sregep (rajin, Red) sekolah,’’ imbuhnya.

 


Ditambahkan, seperti yang diusung Nahdlatul Ulama (NU), al muhafadhatu ala qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah (memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik, Red), pesantren mempertahankan budaya lokal yang ada dan mengambil yang lebih baik dari yang baru.

 


’’Seperti di sini, kita ada SMA jurusan komputer.  Saya kira pesantrennya kalau tiga pilar tadi dilaksanakan, tidak akan tergerus. Yang pertama, shalat berjamaah itu akan memberikan contoh uswah hasanah kepada santri-santrinya. Yang kedua, rajin baca Al-Qur’an dan tentunya dengan tafsirnya. Yang ketiga, ngaji dan sekolah. Ngaji itu kitab kuning. Kalau tiga hal ini dilaksanakan, tidak akan terpengaruh apa-apa karena santri dengan doktrin kiainya tidak akan tergoyahkan oleh siapa pun. Santri manut kepada kiainya, insyaallah disuruh apa saja sudah sam’an wa thaatan. Jadi, saya tidak khawatir bahwa pesantren akan tergerus dengan datangnya modernisasi dan segala macam,’’ ungkapnya menegaskan. (Imam Hamidi Antassalam, Abdullah Alawi)


Tokoh Terbaru