• logo nu online
Home Nasional Banten Raya Warta Keislaman Tokoh Khutbah Sejarah Opini Pesantren NU Preneur Ramadhan 2023
Senin, 17 Juni 2024

Opini

Eksistensi tanpa Esensi

Eksistensi tanpa Esensi
Ilustrasi Al-Biruni: disclose.tv
Ilustrasi Al-Biruni: disclose.tv

MANUSIA ambisius duniawi selalu melakukan profit taking—mencari untung— dari segala tindakannya, tak terkecuali ketika menginginkan sebuah eksistensi strata sosial naik kelas. Satu keyword: Eksistensi! Apapun dilakukan agar dapat dikenal, disanjung, dikagumi bahkan dikultuskan. Manusia berjenis ini terlalu banyak melakukan abuse of power, menyalahgunakan potensi kewenangan yang melekat pada dirinya dan menghalalkan segala cara untuk menuju satu tujuan eksistensi semu di mata publik.

 


Penggalan paragraf di atas adalah eksistensi beraroma sengit kenegatifan yang penuh intrik. Sedangkan, eksistensi beraura positif sejatinya merupakan bentuk lain dari pengakuan sejati. Seorang ilmuwan tulen akan membuktikan kepada para koleganya, bahwa dalam kesenyapan penelitian laboratoriumnya, ia mampu menemukan something new, sesuatu yang baru, yang kemudian dapat menjadi benchmark dunia keilmuan dan bernilai kemanfaatan tinggi bagi kemanusiaan. Ilmuwan berkarakter jenis ini, merelakan matanya menjadi minus dengan kaca mata tebal, melahap berbagai macam referensi, mengalihbahasakan berbagai sumber ilmu, demi satu tujuan eksistensi sejati.

 


Namun, dalam dunia yang serba instan sekarang ini, ghirah mereka yang disebut sebagai kaum cerdik pandai mulai memudar. Bahkan tidak sedikit, ‘ilmuwan instan,’ dengan hanya copy paste karya orang lain, secara serampangan bahkan melakukan hal yang lebih miris lagi, plagiarisme total. Sebuah ironi intelektualitas demi eksistensi penuh kamuflase dan fatamorgana. Lagi-lagi demi sebuah pengakuan semu.

 


Sebenarnya, diperlukan berbagai stimulan yang menjanjikan agar terdapat dorongan jiwa yang sangat kuat dan passion terutama kepada generasi masa depan untuk mencintai ilmu dan pengetahuan sedini mungkin. Langkah awal yang perlu diperkenalkan adalah dengan gemar membaca buku. Literasi bacaan sungguh modal besar untuk menjadi ilmuwan yang eksistensinya berkelindan dengan esensi keilmuan yang dimilikinya.

 


Fakta bahwa generasi tiga tahun ke belakang (2019-2022) adalah generasi dengan challenge terberat, karena adanya wabah Covid-19 yang memakan korban 6,9 juta jiwa di seluruh dunia, perlu mendapat penekanan sangat khusus dan mendasar. Kini, setelah akhir dari darurat kesehatan publik global Covid-19 dideklarasikan oleh World Health Organization (WHO) dan Covid-19 tak lagi menjadi ‘wabah pencabut nyawa,’ para calon ilmuwan dan cerdik pandai dari berbagai pelosok dunia tak terkecuali di Indonesia, baik yang berada di pondok pesantren, madrasah, sekolah hingga perguruan tinggi, telah berpacu dengan waktu, mem-booster ilmu pengetahuan yang delay dengan para pembimbing mereka yang fenomenal.



Jika langkah ini dikonsisteni, maka akan bermunculan para ilmuwan tangguh, semisal Ali Ibnu Rabban At-Thabari, Abu Bakar Muhammad bin Zakariyya Ar-Razi, Ibnu Sina, Jabir bin Hayyan, dan Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi. Mereka adalah para ilmuwan sejati dengan eksistensi beresensi bukan eksistensi nir-esensi.

Semoga!

Wallahu ‘alamu bishawaab

 


K Hadi Susiono Panduk, AMa, SS, Kolumnis Muslim; Rais Syuriyah MWCNU Bayah;  Pengurus MUI Kabupaten Lebak dan Pengurus Pergunu Kabupaten Lebak; Lulusan Pondok Pesantren Al-Khoirot, Sabilillah Kudus, Madrasah Aliyah Nahdlatul Muslimin Kudu, serta Universitas Diponegoro Semarang


Opini Terbaru