• logo nu online
Home Nasional Banten Raya Warta Keislaman Tokoh Khutbah Sejarah Opini Pesantren NU Preneur Ramadhan 2023
Sabtu, 20 April 2024

Tokoh

KH Ali Yafie Menebar Keteladanan dan Menginspirasi

KH Ali Yafie Menebar Keteladanan dan Menginspirasi
Sahabat KH Ali Yafie, Jimly Asshiddiqie (kaus kaki hitam) bersama sejumlah tokoh dan keluarga almarhum sebelum haul dimulai. (Foto: NUOB/Singgih Aji Purnomo)
Sahabat KH Ali Yafie, Jimly Asshiddiqie (kaus kaki hitam) bersama sejumlah tokoh dan keluarga almarhum sebelum haul dimulai. (Foto: NUOB/Singgih Aji Purnomo)

Tangerang Selatan, NU Online Banten

Pagi itu sejuk. Sedikit mendung. Rangkaian acara dimulai sejak pagi hari dalam rangka mengenang satu tahun KH Ali Yafie di kediaman almarhum, Jl Menteng V, Blok FC 5 No 12, Menteng Residence, Bintaro Sektor 7, Tangerang Selatan, Ahad (25/2/2024). Dimulai dengan tahlil dilanjutkan ngaji bersama sekitar 20 orang mahasiswi Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta.



’’Sekitar pukul 09.00 WIB, dimulai seremoni pembukaan, lalu pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Nurul Fajri, sambutan-sambutan, dan penyampaian kesan pesan sahabat dan keluarga, tausiah, dan ditutup dengan doa,’’ ujar KH Hilmi Ali, putra kedua KH Ali Yafie.


Sejumlah tokoh hadir. Di antaranya Jimly Asshiddiqie. Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia itu menyampaikan kesan dan pesan.
“Saat ini kita perlu banyak teladan dalam mengarungi kehidupan,” ujar pria kelahiran Pelembang itu.

 


Menurutnya, tiga hal yang manusia bawa dan menjadi bekal mati. Amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan. ’’Insyallah dalam diri KH Ali Yafie ketiganya lengkap. Amin,’’ imbuh akademisi hukum tata negara Indonesia itu.



Mengenai kedekatan fisik dengan almarhum, lanjut pria yang pernah menjabat sebagai ketua Mahkamah Konstitusi itu, dimulai ketika menjadi marbot dan ketua remaja masjid pada 1975 di Masjid Al-Azhar. Selanjutnya ketika berada di Majelis Ulama Indonesia (MUI), Kiai Ali Yafie selalu ada dan menjadi pengurus di lembaga tersebut.



’’Sejak 1980-an kita suka mengadakan kegiatan pengajian setelah tarawih, membuat diskusi hingga Subuh, malam Minggu setiap tahun minimal 4 kali selama Ramadhan bersama para tokoh ada Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid, tokoh NU, Red) Nurcholis Majid (cendikiawan, Red), Quraish Shihab (ahli tafsir, Red), dan lainnya,’’ terang pria yang pernah menjadi aggota Dewan Pertimbangan Presiden itu.



Dalam diskusi, Kiai Ali Yafie hanya mendengarkan, tapi semua hadirin mengakui keilmuannya. ’’Di akhir diskusi baru disimpulkan KH Ali Yafie pada pertemuan jelang Subuh, dibuat abstrak lalu diuraikan,’’ jelasnya.



Dia berharap, dalam haul ini ada yang merekam, disimpan atau diberitakan, agar informasi keteladanan dari haul ini dapat dibaca, tersebar, dan bermanfaat bagi banyak orang.


Dalam dinamika kehidupan atau suasana zaman ini, lanjutnya, perlu optimistis dengan upaya perbaikan dengan meneladani para tokoh, termasuk dan terutama KH Ali Yafie.

 


’’Dinamika politik saat ini perlu upaya dengan cara hentikanlah semangat untuk saling menghujat, membenci dan permusuhan. Mari kita berupaya pada arah perbaikan dengan memanfaatkan momentum seperti sekarang ini untuk kebaikan,’’ terangnya.


Dia berharap, semoga KH Ali Yafie selalu menginspirasi semua meski saat ini telah tiada.’’Terus mengenang apa saja yang relevan kita kerjakan dalam rangka memperbaiki keadaan kehidupan termasuk sosial, ekonomi, dan politik bangsa Indonesia,’’ tambahnya.



Selain Jimly, tokoh lain yang hadir pada momen mengenang 1 tahun almarhum KH Ali Yafie sekaligus almarhumah Siti Aisyah dan almarhum Azmy Ali Yafie, itu di antaranya, Rektor Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta Hj Nadjmatul Faizah, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta KH Said Agil Munnawar, dan Dekan Fakultas Islam Nusantara Unusia Ahmad Suaedy. Juga aktifis Hariman Siregar, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Rumadi Ahmad, dan Ketua Umum PB Darud Da’wah Wal-Irsyad Andi Syamsul Bahri.



Sekadar diketahui, Anregurutta Haji (AGH) atau KH Ali Yafie dikenal sebagai ulama ahli fiqih. Dan atas dedikasinya, kiai yang wafat di RS Premier Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (25/2/2023) pukul 22.13 WIB, itu menerima Anugerah 1 Abad NU kategori Pengabdi Sepanjang Hayat.


Kiai Ali Yafie lahir di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, 1 September 1926 atau 23 Safar 1345. Itu berarti, ia wafat di usianya yang ke-96. Kiai
ini lahir di bulan saat Muktamar NU pertama digelar.  Kiai Ali Yafie adalah anak ketiga dari lima bersaudara; As'ad, Muzainah, Munarussana, dan Amira. Kiai yang santun itu lahir dari pasangan Syekh Muhammad Al-Yafie dan Imacayya. Ibunya adalah seorang putri raja dari salah satu kerajaan di Tanete, sebuah desa di pesisir barat Sulawesi Selatan. Imacayya wafat saat Ali Yafie berusia 10 tahun.  Lalu ayahnya menikah lagi dengan Tanawali. Pasangan ini diberi empat keturunan; Muhsanah, Husain, Khadijah, dan Idris. Muhammad Al-Yafie meninggal pada awal 1950-an.



Kiai Ali Yafie yang menjabat sebagai rais ’aam PBNU 1991-1992 dan ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat 1990-2000 itu dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Ahad (26/2/2023) siang, setelah jenazah terlebih dulu dishalatkan di masjid tak jauh dari rumahnya.



Menurut Helmy Ali, putra kedua KH Ali Yafie, Kiai Ali Yafie meninggal karena usia. Terkait sakitnya, ditambahkan, ada penyakit di dalam tubuhnya.’’Kabut di paru-paru dan penyumbatan di jantung. Terus darahnya itu, yang terakhir mengental dan harus transfusi darah, tapi itu karena ada infeksi, dan itu faktor usia,’’ jelasnya ditemui wartawan di sela-sela pemberangkatan jenazah, Ahad (26/2/2023) siang.



Saat ditanya oleh NU Online Banten, apa ada pesan untuk keluarga, dia mengatakan, selalu yang dipesankan supaya tahu diri.’’Bisa tahu diri, membawa diri, sehingga bisa menempatkan diri. Intinya, agar selalu rendah hati,’’ ungkapnya. (Singgih Aji Purnomo)


Tokoh Terbaru