• logo nu online
Home Nasional Banten Raya Warta Keislaman Tokoh Khutbah Sejarah Opini Pesantren NU Preneur Ramadhan 2023
Sabtu, 20 April 2024

Tokoh

Sekilas Perjalanan KH Ali Yafie, Rais ’Aam PBNU 1991-1992

Sekilas Perjalanan KH Ali Yafie, Rais ’Aam PBNU 1991-1992
Singgih Aji Purnomo dari NUOB bersama KH Helmi Ali, putra kedua KH Ali Yafie, (kanan) yang mengenakan baju yang biasa dipakai ayahnya yang fotonya terpajang di tembok. (Foto: NUOB/Singgih Aji Purnomo)
Singgih Aji Purnomo dari NUOB bersama KH Helmi Ali, putra kedua KH Ali Yafie, (kanan) yang mengenakan baju yang biasa dipakai ayahnya yang fotonya terpajang di tembok. (Foto: NUOB/Singgih Aji Purnomo)

Tangerang Selatan, NU Online Banten

Mengenang satu tahun KH Ali Yafie digelar di kediamannya di Jl Menteng V, Blok FC 5 No 12, Menteng Residence, Bintaro Sektor 7, Tangerang Selatan, Ahad (25/2/2024). Diisi dengan tahlil, ngaji bersama, testimoni, dan tausiah. Sejumlah tokoh, keluarga dan kerabat, serta undangan hadir.



Di antara tokoh yang hadir antara lain anggota Dewan Perwakilan Daerah Jimly Asshiddiqie, Rektor Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta Hj Nadjmatul Faizah, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta KH Said Agil Munnawar, dan Dekan Fakultas Islam Nusantara Unusia Ahmad Suaedy. Juga aktifis Hariman Siregar, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Rumadi Ahmad, dan Ketua Umum PB Darud Da’wah wal-Irsyad Andi Syamsul Bahri.

 

KH Helmi Ali, putra kedua KH Ali Yafie, mengatakan, Kiai Ali Yafie bisa dibilang pelopor Darud Da’wah wal-Irsyad (DDI) mulai 1938. Lalu menjadi sekretaris Pengurus Besar DDI dan mengakhirinya yang merupakan satu-satunya jabatan yang disandang hingga wafat sebagai ketua Majelis Masayikh.



’’Saya termasuk orang yang beruntung, karena ayahanda pada masa akhir hayatnya masih didampingi oleh kerabatnya dan kadang menjadi teman diskusi,’’ imbuhnya menyampaikan sambutan di depan hadirin.



Ditambahkan, Kiai Ali Yafie aktif melalui gerakan pendidikan berbasis pesantren, DDI, di Sulawesi Selatan. ’’Sekitar 1950-an barulah Nahdlatul Ulama (NU) masuk ke Sulawesi Selatan,’’ ungkap pengasuh Pondok Pesantren Al Taqwa di Jamboe, Pinrang, Sulawesi Selatan, itu.



Pada 1953 di Pare-pare, Kiai Ali Yafie menjabat sebagai rais syuriyah di Sulawesi Selatan. Pada 1954 diangkat sebagai kepala Jawatan Agama Pare-pare. ’’Lalu, pada 1960 diangkat sebagai hakim agama, pindah ke Makassar sekaligus Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama,’’ terang kiai yang memiliki karya salah satunya Politik Islam dalam Lintasan Sejarah itu.



Pada 1971 terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sekaligus terpilih menjadi salah satu rais syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar NU ke-25 di Surabaya.



Pria yang pernah aktif di Lembaga seperti Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) serta Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat itu menambahkan, pada 2010, Kiai Ali Yafie sudah melepas semua jabatannya di DDI.’’Tapi murid-muridnya ingin KH Ali Yafie menjadi pemimpin Majelis Masayikh. Wal hasil hingga akhir hayatnya masih memimpin,’’ tutur pria yang mengenakan peci hitam, sarung kotak-kotak berwarna abu-abu kebiruan dipadu kemeja putih yang biasa dipakai oleh KH Ali Yafie itu.

 


’’Saya ucapkan terima kasih banyak telah hadir untuk mengingat dan memberikan kenangan ayahanda kami,’’ pungkas pria yang pernah menakhodai Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU itu.



Sekadar diketahui, Anregurutta Haji (AGH) atau KH Ali Yafie dikenal sebagai ulama ahli fiqih. Dan atas dedikasinya, kiai yang wafat di RS Premier Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (25/2/2023) pukul 22.13 WIB, itu menerima Anugerah 1 Abad NU kategori Pengabdi Sepanjang Hayat.


Kiai Ali Yafie lahir di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, 1 September 1926 atau 23 Safar 1345. Itu berarti, ia wafat di usianya yang ke-96. Kiai
ini lahir di bulan saat Muktamar NU pertama digelar. Kiai Ali Yafie adalah anak ketiga dari lima bersaudara; As'ad, Muzainah, Munarussana, dan Amira. Kiai yang santun itu lahir dari pasangan Syekh Muhammad Al-Yafie dan Imacayya. Ibunya adalah seorang putri raja dari salah satu kerajaan di Tanete, sebuah desa di pesisir barat Sulawesi Selatan. Imacayya wafat saat Ali Yafie berusia 10 tahun.  Lalu ayahnya menikah lagi dengan Tanawali. Pasangan ini diberi empat keturunan; Muhsanah, Husain, Khadijah, dan Idris. Muhammad Al-Yafie meninggal pada awal 1950-an.



Kiai Ali Yafie yang menjabat sebagai rais ’aam PBNU 1991-1992 dan ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat 1990-2000 itu dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Ahad (26/2/2023) siang, setelah jenazah terlebih dulu dishalatkan di masjid tak jauh dari rumahnya.



Menurut Helmy Ali, putra kedua KH Ali Yafie, Kiai Ali Yafie meninggal karena usia. Terkait sakitnya, ditambahkan, ada penyakit di dalam tubuhnya.’’Kabut di paru-paru dan penyumbatan di jantung. Terus darahnya itu, yang terakhir mengental dan harus transfusi darah, tapi itu karena ada infeksi, dan itu faktor usia,’’ jelasnya ditemui wartawan di sela-sela pemberangkatan jenazah, Ahad (26/2/2023) siang.



Saat ditanya oleh NU Online Banten, apa ada pesan untuk keluarga, dia mengatakan, selalu yang dipesankan supaya tahu diri.’’Bisa tahu diri, membawa diri, sehingga bisa menempatkan diri. Intinya, agar selalu rendah hati,’’ ungkapnya. (Singgih Aji Purnomo)


Tokoh Terbaru