• logo nu online
Home Nasional Banten Raya Warta Keislaman Tokoh Khutbah Sejarah Opini Pesantren NU Preneur Ramadhan 2023
Senin, 17 Juni 2024

Opini

Menuju Kefitrian Manusia Baru

Menuju Kefitrian Manusia Baru
Ilustrasi Idul Fitri. (Foto: Freepik)
Ilustrasi Idul Fitri. (Foto: Freepik)

LAKU spiritualitas seorang Mukmin selama menjalani rangkaian ibadah pada Bulan Ramadhan akan bermuara pada sebuah kemenangan. Kemenangan menjaga dari berbagai hal yang mengurangi bahkan merontokkan pahala puasa hingga mem-booster jiwa dengan injeksi pembaharuan keimanan. Detik-detik kemenangan yang menggetarkan jiwa, hanya dapat dirasakan oleh mereka yang dengan khusyuk dalam penghambaan diri kepada Allah melalui ritual yang telah disyariatkan-Nya. Pendek kata, deklarasi atas kemenangan itu ditandai dengan kembalinya seorang Mukmin menjadi fitri (suci) pada Hari Raya Idul Fitri.



Kesucian seorang Mukmin pada Hari Kemenangan meneguhkan kembali awal mula manusia diciptakan bahwa seorang bayi terlahir dalam keadaan suci seperti tersurat dalam redaksi hadits Imam Muslim (Shahih Muslim, DKI jilid 4, hadits: 2658). Dalam perjalanan hidup yang diarungi, kesucian manusia terus diuji. Pasang surut pengalaman hidup, berbanding terbalik dengan realitas manusia sebagai hamba, di mana manusia tak bisa terlepas dari jeratan dosa, baik kepada Allah maupun sesama manusia, sehingga manusia perlu me-refresh semua ‘perangkat lunaknya’ agar kembali terlahir menjadi manusia baru dengan semangat penghambaan yang prima.



Hal ini, sesuai firman Allah dalam Surat Ar-Rum ayat 30, “Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam sesuai) fitrah (dari) Allah yang telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah (tersebut). Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” Allah dengan jelas menekankan kepada manusia untuk tidak lupa akan fitrahnya yakni kesucian dalam penghambaan melalui agama Islam dengan jalan menauhidkan Allah, bukan malah memadankan dan menyekutukan-Nya.



Pada momen kembali menjadi fitri di Hari Raya Kemenangan inilah, seorang Mukmin disunnahkan mengagungkan Asma Allah dengan bacaan takbir dan menyantap makanan sebelum melaksanakan Shalat Sunnah Idul Fitri (Imam Nawawi, Majmu’ Syarah Muhazbab, juz 6, hal:42). Bertakbir artinya pengikraran atas kemahaagungan Allah dan pengakuan akan kelemahan dan ketidakberdayaan diri.



Bertakbir dan menyantap makanan pada saat Idul Fitri adalah tanda bukti dimulainya perjalanan baru bagi seorang Mukmin untuk melanjutkan perjalanan hidup ke depan. Perjalanan manusia baru, juga ditandai dengan meningkatnya ketakwaan sebagai laku spiritualitas pasca Ramadhan, bukan dengan memakai baju dan perhiasan yang baru hingga memiliki aksesoris dan investasi dunia lainnya.  

 


Bekerja dan berinovasi sebagai manifestasi ketakwaan manusia baru                     

Setelah hectic menunaikan ibadah Ramadhan secara maraton, maka saatnya umat Muslim kembali berjibaku dengan bekerja. Bekerja sebagai manifestasi dari ketakwaan manusia baru kepada Allah swt. “Apabila shalat (Jumat) telah dilaksanakan, bertebarlah kamu di bumi, carilah karunia Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.’’ (QS al-Jumuah:10).

           


Ayat tersebut memberikan pemahaman bahwa dalam bekerja, seorang Muslim harus bersikap penuh optimisme, kerja keras dan berusaha sekuat tenaga dalam meraih rezeki dari Allah karena rezeki tersebut tidaklah serta merta turun dari langit, melainkan diikhtiarkan dari bumi dengan cara bekerja. Tidak bisa dibayangkan jika manusia tidak bekerja. Manusia dititahkan oleh Allah sebagai khalifah di bumi dengan bekerja dan membuat inovasi agar kehidupan di dunia dapat berkesinambungan. Sebagai perwakilan Allah di bumi, manusia diberikan tugas dan wewenang untuk mengolah bumi yang mati menjadi bumi yang menghidupi kehidupan manusia.



Nabi Muhammad memberikan skor tertinggi kepada umat Muslim yang bekerja, seperti terekam jelas dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibrahim bin Musa, “Tidak ada seseorang memakan suatu makanan yang lebih baik daripada makanan dari hasil kerja keras tangannya sendiri. Dan Nabi Da’ud ‘alaihis salam makan dari hasil kerja keras tangannya.” (Sahih Bukhari, Hadits:2.072).  



Hadits berkonten heroik tersebut, memberikan tamparan keras kepada umat Muslim yang dalam mencari rezeki masih juga menggunakan cara-cara brutal, abuse of power, dan penyimpangan-penyimpangan lainnya. Jika umat Muslim menghayati dan mengamalkan kandungan hadits-hadits tersebut, maka tidak akan ada lagi pejabat Muslim yang bermental korup. Jika mayoritas dari kita memiliki semangat kerja yang tinggi, maka tidak akan ada waktu terbuang untuk hal-hal yang sia-sia. Jika semua komponen anak bangsa berjibaku dalam kohesivitas kebangsaan dan mem-booster etos kerja nasional, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjelma menjadi kekuatan raksasa yang lebih diperhitungkan dalam percaturan dunia.



Menjaga konsistensi etos kerja bagi seorang Muslim harus terus diupayakan dengan meninggalkan sikap berpangku tangan dan sikap malas bekerja. Nabi Muhammad memberikan doa penangkalnya, seperti disitir oleh Imam Bukhari dalam Kitab Shahihnya, bernomor hadits 6367,  “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan, aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, serta bencana kehidupan dan kematian.”

 


Etos kerja yang terus dijaga dan dibangun akan bermuara pada sebuah inovasi. Maka seorang Muslim seyogyanya dapat menjadi pionir laku kebajikan dalam artian menjadi pengawal, perintis jalan, pelopor serta penganjur kebajikan. Para pionir kebajikan telah digaransi pahala oleh Nabi Muhammad seperti redaksi dalam sebuah hadits yang disitir oleh Imam Muslim dari Jarir ra, “Barang siapa yang memulai mengerjakan perbuatan baik dalam Islam (sehingga menjadi kebiasaan umat), maka dia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang yang mencontoh perbuatan itu, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa yang memulai kebiasaan buruk (sehingga menjadi kebiasaan umat), maka dia akan mendapatkan dosanya, dan dosa orang yang mengikutinya dengan tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (Sahih Muslim: 1017)

 


Makna implisit hadits tersebut dalam skala makro, adalah perlu adanya kreativitas, kemauan dan passion yang kuat pada diri setiap Muslim untuk menjadi pionir dalam bidang yang digeluti. Dunia peradaban Islam dewasa ini, sedang nyenyak sekaligus asyik dalam tidur berkepanjangan. Banyak legenda ilmuwan Muslim tercatat dalam sejarah, semisal dalam bidang kedokteran, Ali Ibnu Rabban At-Thabari yang hidup pada zaman Khalifah Al-Mutawakil pada periode kekhalifahan Bani Abbasiyah (Imam Suyuthi-Tarikh Khalifah) dengan murid masyhurnya, penemu ‘small-pox’ (penyakit cacar), air raksa (Hg) atau diagnosa hipertensi, yakni Abu Bakar Muhammad bin Zakariyya Ar-Razi, atau pun Ibnu Sina (Aveciena) yang menjadi pionir tentang pembengkakan pada paru-paru dan mengenali potensi penularan wabah penyakit saluran pernafasan, asma dan TBC melalui pernafasan dan penyebaran berbagai penyakit melalui udara dan air, nyatanya telah menjadi rujukan dunia kedokteran Barat serta berbagai universitas bergengsi di Eropa. 


Masih lagi, jika menilik legenda ilmuwan Muslim dalam bidang kimia, Jabir bin Hayyan (Geber) yang terkenal dengan Bapak Kimia Muslim pertama, atau pun dalam bidang astronomi dan matematika dengan barisan Fibonacci, yang melekat pada diri seorang Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi yang hidup pada zaman Khalifah Abdullah Al-Ma’mun.



Namun, ilmuwan-ilmuwan Muslim tersebut mungkin hanya sebagai simbol kedigjayaan peradaban Islam yang pernah ada, sedangkan kajian-kajian tentang khazanah keilmuaan mereka tidak lagi menjadi prioritas bagi generasi Muslim milenial. Perlu langkah besar dan lompatan jauh ke depan dari para ilmuwan Muslim di seluruh dunia untuk mengembalikan kejayaan dan mercusuar keilmuan Islam. Meskipun zaman telah berubah, namun upaya dan dorongan kekinian atas penguasaan khazanah ilmu pengetahuan dan teknologi harus terus dikampanyekan.



Umat Islam—terutama di Indonesia—seharusnya mulai sadar, saling memaafkan dan melupakan perbedaan tidak prinsipal, untuk maju bersama demi mengejar ketertinggalan dari bangsa lain sembari menyalakan kembali obor kejayaan peradaban Islam yang telah redup.



Ramadhan adalah momentum bagi umat Islam agar me-refresh dalam berkarya dan menjadi best of the best dalam bidang masing-masing individu Muslim. Kekurangan dalam inovasi membuat umat Islam masih terbelakang, out of date tidak up to date, baik dalam bidang pemikiran, ilmu pengetahuan dan bidang teknologi. Jika umat Islam hanya mementingkan cangkang dari pada isi, mementingkan eksistensi tanpa esensi, dan lebih suka menjadi buih di lautan dari pada menjadi arus deras yang mampu mendobrak kejumudan pola tingkah dan laku, maka umat Islam hanya akan menjadi penonton sirkus, bukan sebagai pemain sirkus apalagi sebagai pemiliki wahana sirkus kehidupan.



Sebagai individu Muslim, pertanyaan kritis analitis yang terus mengemuka adalah laku kebajikan apa yang telah kita pioniri dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Apakah kita hanya sebagai follower, pengikut kebaikan atau tampil sebagai pemuka kebaikan, meskipun juga menjadi yang disebut pertama masih terbilang baik walaupun kurang aktif dan inovatif daripada menjadi pengampanye atau pionir laku keburukan.



Pada akhirnya, hadits Imam Muslim di atas bak lecut bagi seorang Muslim dan diperkuat Firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 261 tentang terus menjadi pionir kebajikan karena di dalamnya terdapat multilevel pahala dan larangan menjadi pionir laku keburukan, jika tidak ingin mendapatkan multilevel pensiun dosa.



Walhasil, spirit menjadi manusia baru dengan pengukuhan kembali nilai-nilai spiritualitas dan bekerja serta berinovasi sebagai manifestasi ketakwaan manusia baru akan menjadi obor pemandu perjalanan hidup yang penuh dengan aral dan bebatuan terterjal.



Kemenangan seorang Mukmin dalam melibas hawa nafsunya sehingga menjadi manusia suci dengan peningkatan ketakwaan yang melekat pada dirinya, diharapkan menjadi pewarna dalam segala sendi kehidupan. Thus, dengan berakhirnya drilling Ramadhan, kehidupan berbangsa dan bernegara diharapkan mengalami tren peningkatan kemaslahatan masyarakat sosial komunal demi terciptanya baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur.

Wallahu ’alamu bisshawab

 


Hadi Susiono Panduk, Kolumnis Muslim Asal Undaan Kidul, Kudus, Jawa Tengah; Rais Syuriyah MWCNU Bayah; Sekretaris Umum MUI Kecamatan Bayah; Pengurus Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Lebak; Pengurus MUI Kabupaten Lebak; Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orwil Banten; Lulusan Pondok Pesantren al-Khoirot, Sabilillah Kudus; Lulusan MA Nahdlatul Muslimin Kudus: Lulusan Universitas Diponegoro Semarang


Opini Terbaru