• logo nu online
Home Nasional Banten Raya Warta Keislaman Tokoh Khutbah Sejarah Opini Pesantren NU Preneur Ramadhan 2023
Senin, 17 Juni 2024

Opini

Pendidikan Indonesia: Partisipasi, Literasi, dan Belenggu Plagiarisme

Pendidikan Indonesia: Partisipasi, Literasi, dan Belenggu Plagiarisme
Ilustrasi dunia pendidikan. (Foto: Freepik)
Ilustrasi dunia pendidikan. (Foto: Freepik)

Berapa guru yang tersisa?

 


PERNAHKAH mendengar atau membaca pertanyaan di atas? Bersumber dari mana pertanyaan itu? Ya, pertanyaan di atas menjurus kepada Kaisar Hirohito Jepang. Kala itu, Pada 1945, bertepatan dengan Perang Dunia II, Amerika Serikat dan sekutunya menjatuhkan bom atom berkekuatan besar di Hiroshima dan Nagasaki. Kerugian yang dialami Jepang begitu dahsyat baik secara materi maupun jumlah nyawa yang melayang akibat bom atom. Wal hasil, Jepang mengalami kelumpuhan total, yang akhirnya membawa pada kekalahan telak dari sekutu.

 


Saat mendengar berita pengeboman, Sang Kaisar pemimpin tertinggi Jepang pada saat itu langsung mengumpulkan para Jenderal yang tersisa. Pertanyaan mengenai jumlah guru yang tersisa ini lantas membuat bingung para jenderal. Sebab, semula mereka mengira sang Kaisar akan menanyakan perihal tentara, alih-alih guru yang masih tersisa.

 


Kaisar Hirohito mengatakan ‘Jepang telah jatuh.’ Kejatuhan ini dikarenakan mereka tidak belajar. Jenderal dan tentara Jepang boleh jadi kuat dalam senjata dan strategi perang, tetapi tidak memiliki pengetahuan mengenai bom yang telah dijatuhkan Amerika, Jepang tidak akan bisa mengejar Amerika jika tidak belajar.

 


Oleh karenanya, Kaisar mengimbau pada para jenderal untuk mengumpulkan seluruh guru yang tersisa di seluruh pelosok Jepang. Sebab, kepada para gurulah seluruh rakyat Jepang kini harus bertumpu, bukan pada kekuatan pasukan.

 


Untuk membangkitkan Jepang dari keterpurukan, Kaisar Hirohito kemudian bergerak untuk mengumpulkan sekitar 45 ribu guru yang tersisa pada saat itu dan memberi mereka arahan. Kehadiran guru pada saat itu menjadi hal krusial bagi seluruh lapisan masyarakat Jepang. Kini semua kita bisa melihat kebangkitan Jepang. Inilah pentingnya pendidikan.

 


Lalu, bagaimana potret Pendidikan di Indonesia? Mari kita selami beberapa hal yang sependek pengetahuan penulis penting untuk diulas.

 


Partisipasi

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tentang statistik Pendidikan 2023, memperlihatkan keberhasilan program Wajib Belajar yang diterapkan oleh pemerintah tampak terlihat dari capaian angka partisipasi sekolah (APS) kelompok umur 7- 12 tahun dan 13-15 tahun yang berada di atas 95 persen.

 


Sementara capaian APS kelompok umur 16-18 tahun dan 19-23 tahun tercatat sebesar 73,42 persen dan 28,96 persen. Perbedaan capaian APS pada kelompok pengeluaran teratas (Kuintil 5) dan terbawah (Kuintil 1) semakin nyata terlihat seiring kenaikan kategori kelompok umur.

 


APS digunakan untuk melihat akses penduduk pada fasilitas pendidikan, khususnya bagi penduduk usia sekolah. Indikator APS terbagi dalam empat kategori kelompok umur yang bersesuaian dengan jenjang pendidikan dasar, menengah, dan tinggi.



APS merupakan ukuran daya serap lembaga pendidikan terhadap penduduk usia sekolah. Semakin tinggi capaian APS maka semakin besar jumlah penduduk yang berkesempatan mengenyam pendidikan. Walaupun, menurut Huriaty, Ranti, & Chairani (2018), peningkatan APS tidak selalu dapat diartikan dengan meningkatnya pemerataan kesempatan dalam mengenyam pendidikan.

 


Data ini semestinya jadi angin segar bagi dunia pendidikan di Indonesia, meskipun kenyataannya masih ada sekolah yang sulit dijangkau oleh murid, data Susenas 2023 menunjukkan, semakin tinggi jenjang pendidikan, angka putus sekolah juga semakin tinggi, dengan capaian tertinggi berada di jenjang SM/sederajat sebesar 1,03 persen, carut marutnya sistem PPDB (penerimaan peserta didik baru) disertai dengan dinamika permasalahan yang menyertainya juga siklus masalah pendidikan lain yang senada.

 


Literasi

Memandang data BPS, capaian pendidikan angka melek huruf (AMH) terendah terjadi pada kelompok umur 15 tahun ke atas. Mayoritas penduduk 15 tahun ke atas di Indonesia telah mencapai wajib belajar 9 tahun (63,11 persen). Masih terdapat ketimpangan tingkat pendidikan yang ditamatkan dari penduduk usia 15 tahun ke atas untuk penduduk yang tinggal di perdesaan, kondisi ekonomi rumah tangga yang rendah, serta para penyandang disabilitas.

 


AMH juga merupakan salah satu indikator pencapaian target SDGs pilar sosial yaitu indikator 4.6.1 (a), yang menjamin bahwa pada 2030 semua remaja dan proporsi kelompok penduduk dewasa tertentu, baik laki- laki maupun perempuan, memiliki kemampuan literasi dan numerasi.

 


Guna mewujudkan prinsip (Sustainable Development Goals) SDGs yaitu “leave no one behind”, keempat hal tersebut perlu mendapatkan perhatian khusus dalam upaya meningkatkan capaian AMH. Literasi merupakan bagian dari hak atas pendidikan yang dapat meningkatkan derajat kehidupan untuk mengurangi kemiskinan, meningkatkan partisipasi dalam pasar tenaga kerja, dan mempunyai dampak positif terhadap kesehatan dan pembangunan berkelanjutan (UNESCO, 2023). Dampak tersebut tidak hanya dirasakan oleh penduduk dewasa namun juga anak-anak sebagai bekal mereka di masa depan. Literasi perlu diupayakan pada tujuan untuk meningkatkan daya baca, bukan hanya minat baca. Meski, minat baca masih jauh dari harapan.

 


Belenggu Plagiarisme

Akhir-akhir ini mencuat lagi, lagi dan lagi, hampir setiap tahun kasus plagiarisme di kalangan akademisi kampus. Mulai dari mahasiswa hingga guru besar tak luput dari jeratan plagiarisme, penulis mencatat setidaknya mulai dari 1979.

 


Dalam rangka meraih gelar profesor Universitas Indonesia (UI), pada 1979, dosen UI Amir Santoso dituduh melakukan plagiat karya tulis ilmiah dari berbagai kalangan, bahkan dari mahasiswanya sendiri juga disinyalir meniru karya intelektual pakar lain.



Januari 2010, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Ade Juhana menyelesaikan tesis doktornya diduga dengan meniru tesis Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten Tihami, serta buku karya dosen sekaligus Ketua Lembaga Penelitian IAIN Sultan Maulana Hasanuddin, Mohamad Hudaeri. Namun, itu hanya laporan surat pembaca di harian Kompas, kelanjutan kasus belum diketahui.



Yang terbaru, dugaan plagiat artikel milik dosen di Cambridge yang dilakukan oleh dosen ITPLN akhir-akhir ini viral, kini sedang diinvestigasi. Asisten profesor bidang ekonomi politik pembangunan di University of Camridge, Dr Ilias Alami melaporkan tindakan plagiarisme yang diduga dilakukan oleh akademisi Indonesia. Melalui cuitannya di X yang belakangan ini viral, dia menjelaskan bahwa salah satu artikelnya disalin 100 persen menggunakan bantuan ChatGPT.

 


Ilias pada Ahad, 21 April 2024 melalui cuitannya di X, "rupanya seseorang menyalin atau menempel 100% salah satu artikel yang saya tulis bersama rekan penulis saya tentang kapitalisme negara dengan chatGPT, dan mempublikasikannya."

 


Sejurus dengan ketiga hal di atas, maka penting bagi semua pihak mulai dari pemerintah hingga individu-individu insan pendidikan bersinergi meningkatkan kualitas pendidikan. Angka partisipasi sekolah (APS) perlu dikawal agar terus meningkat hingga pendidikan di Indonesia merata dan bermutu. Literasi perlu dioptimalkan pada setiap jenjang usia dan wilayah hingga menghasilkan daya baca yang baik dan para akademisi dapat keluar serta terbebas dari belenggu plagiarisme agar pendidikan di Indonesia benar-benar bermutu.

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2024.

Wallahu a‘lamu bisshawab

 


Singgih Aji Purnomo, Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Amanah Al-Gontory, Jurnalis NU Online Banten


Opini Terbaru